The Journey Start Here!

Informasi Lengkap Jalur Pendakian Ciremai via Apuy

Riset jalur pendakian gunung Ciremai via Apuy disini. Informasinya super lengkap!

Gunung Ciremai adalah gunung tertinggi di Jawa Barat dengan ketinggian 3.078 mdpl, terletak di perbatasan Kabupaten Kuningan dan Majalengka. Gunung ini dikenal punya karakter jalur yang menantang namun tetap ramah untuk berbagai level pendaki. 

Salah satu jalur yang paling populer adalah jalur Apuy. Jalur pendakian ini punya akses yang mudah, basecamp tertata, dan pemandangannya indah. Mulai dari hutan pinus, sunrise yang luas, sampai city light yang terlihat jelas dari ketinggian. 

Nggak heran kalau jalur ini jadi favorit para pendaki yang ingin menikmati suasana Ciremai tanpa perlu akses yang ribet. Kalau kamu mau mendaki gunung tertinggi di Jawa Barat ini dan kesulitan mencari informasi pastinya. Kamu wajib baca artikel ini hingga selesai!

Sekilas Tentang Jalur Pendakian Gunung Ciremai via Apuy

Lokasi jalur Apuy berada di Desa Argamukti, Majalengka dan menjadi salah satu akses resmi menuju Gunung Ciremai. Selain jalur Apuy, gunung Ciremai sendiri punya beberapa jalur pendakian resmi lainnya, yaitu Palutungan, Linggarjati, dan Linggasana. 

Di antara jalur-jalur tersebut, Apuy sering dipilih pendaki karena akses transportasi yang mudah. Banyak pendaki pemula maupun rombongan memilih jalur ini karena suasananya nyaman, fasilitas basecamp cukup lengkap, dan proses registrasi terbilang tertata.

Jalur Apuy terkenal lebih landai daripada jalur pendakian lainnya. Menurut banyak sumber, jalurnya tidak terlalu ekstrem dan cukup bersahabat. Walaupun begitu, kamu gak boleh anggap remeh. Tetep wajib latihan fisik sebelum pendakian, apalagi latihan kaki

Akses Transportasi ke Basecamp Apuy

Untuk menuju Basecamp Apuy, rutenya cukup mudah kamu ikuti, baik menggunakan kendaraan pribadi atau transportasi umum. Dari Terminal Majalengka atau Pasar Maja, kamu bisa melanjutkan perjalanan menuju Desa Argamukti yang menjadi akses utama ke basecamp. 

Di titik tersebut, kamu tinggal memilih transportasi yang tersedia sesuai kebutuhan dan jumlah rombongan. Jalurnya sudah ramai dilewati pendaki, jadi kamu nggak perlu khawatir soal arah. 

Pilihan transportasinya pun cukup beragam, mulai dari angkutan umum, angkot, minibus lokal, hingga kendaraan carter atau ojek dari titik keberangkatan. Buat kamu yang membawa kendaraan pribadi. Tinggal ikuti rute yang ditunjukan oleh google maps. 

Bagi pengendara motor, jalur sudah aman banget. Namun jika kamu membawa mobil, harus lihai mengemudikannya. Karena jalannya cukup sempit, dan di beberapa titik tikungannya cukup tajam. Jadi harus ekstra hati-hati. 

Baca Juga: Kisah Mistis Pendakian Gunung: Kesurupan di Pos 3 Gn Slamet

Proses Ijin dan Biaya Simaksi

Untuk mendaki gunung Ciremai via Apuy, kamu harus melakukan registrasi lebih dulu. Kamu harus booking online via website untuk mengamankan slot pendakian. Prosesnya tidak berhenti sampai disitu, sebelum mendaki kamu akan melakukan registrasi ulang dan juga periksa kesehatan. 

Rincian biayanya sebagai berikut:

  • Booking online via website = Rp 50.000 per orang
  • Registrasi ulang = Rp 50.000 per orang
  • Periksa kesehatan = Rp 25.000 per orang

Oya, kamu juga harus mengeluarkan biaya sebesar 300.000 untuk sewa mobil pickup. Itu sudah termasuk menginap di basecampnya (kemarin saya begitu). Namun jika kendaraan yang kamu bawa cukup tangguh, bisa langsung parkir di area gerbang pendakian. 

Baca Juga: Tak Sesuai Harapan – Jembatan Merah Purbalingga

Rute Pendakian Gunung Ciremai via Jalur Apuy

tempat registrasi ulang gunung ciremai

Basecamp – Gerbang Pendakian

Basecamp Apuy berfungsi sebagai area parkir mobil sekaligus tempat menginap atau beristirahat sebelum memulai pendakian. Lokasinya berada di area perkampungan masyarakat. 

Suasananya cukup ramai saat musim pendakian, namun tetap tertata. Sehingga cocok dijadikan tempat mempersiapkan fisik dan mental sebelum naik ke jalur pendakian.

Dari Basecamp Apuy, Kamu harus melanjutkan perjalanan menuju gerbang pendakian menggunakan mobil bak terbuka (losbak) yang disediakan warga setempat.

Perjalanan ini justru jadi pengalaman tersendiri karena melintasi area perkebunan milik warga dengan suasana pedesaan yang masih asri. 

Di beberapa titik, kamu juga bisa melihat pemandangan kota dari kejauhan, jadi meski belum mulai trekking, perjalanan menuju gerbang pendakian sudah terasa seru dan menyenangkan.

Gerbang Pendakian – Pos 1

Perjalanan dari gerbang pendakian menuju Pos 1 memiliki medan yang relatif landai dan bersahabat. Trek masih didominasi tanah padat dengan tanjakan ringan, cocok buat pemanasan awal sebelum masuk jalur yang lebih serius. 

Sepanjang perjalanan, suasana hutan pinus terasa teduh dan menenangkan. Bikin langkah terasa lebih ringan meski membawa carrier. Jalur ini pas untuk mengatur napas, menyesuaikan ritme jalan, dan menikmati suasana tanpa harus buru-buru.

Salah satu penanda bahwa Pos 1 sudah dekat adalah saat kamu mulai keluar dari hutan pinus dan melihat jalan aspal. Dari titik ini, Pos 1 tinggal selangkah lagi. 

Baca Juga: Tanpa Test PCR, Tiket Pesawat Rp700 Ribu Bisa Hangus!

Pos 1 – Pos 2

Perjalanan dari Pos 1 menuju Pos 2 membawa kamu kembali masuk ke area hutan yang lebih rapat. Karakter jalurnya didominasi tanjakan yang sudah terasa konsisten.

Meski masih diselingi beberapa bonus berupa jalan datar untuk mengatur napas. Jalur tanah bercampur akar pohon membuat langkah perlu lebih hati-hati, apalagi jika kondisi tanahnya lembab. 

Memasuki rute pos 1 ke pos 2 ini sebaiknya kamu mulai menjaga ritme pendakian tetap stabil agar tenaga tidak cepat terkuras sejak awal pendakian. 

Tapi kalau kamu tergolong pendaki santai yang tiap kali liat spot nyaman langsung mau duduk dan “sebat”. Area ini mungkin akan menghambat waktumu lebih banyak. 

Memasuki area Pos 2, kondisi lahan cenderung dipenuhi akar-akar besar dengan ruang datar yang sangat terbatas. Area ini lebih cocok dijadikan tempat istirahat singkat untuk minum atau ngemil ringan.

Pasti kurang nyaman kalau dijadikan area bermalam. Namun jika kondisi darurat, masih ada beberapa area yang bisa digunakan untuk mendirikan tenda. 

Pos 2 – Pos 3

Perjalanan dari Pos 2 menuju Pos 3 memiliki karakteristik medan yang kurang lebih serupa dengan jalur sebelumnya. Jalur masih didominasi tanah dengan kontur naik-turun.

Sesekali diselingi akar pohon dan batu kecil yang menuntut kehati-hatian saat melangkah. Vegetasi hutan masih cukup rapat, sehingga jalur terasa teduh, namun tetap menguras tenaga.

Tanjakan datang silih berganti tanpa bonus trek datar yang panjang. Meski teknisnya tidak jauh berbeda, jarak tempuh dari Pos 2 ke Pos 3 sering terasa lebih panjang secara mental dan fisik. 

Di titik ini, kamu perlu memanage energi dengan baik. Jangan lupa untuk intake kalori saat pendakian. Sehingga tubuh bisa recovery.

Baca Juga: Tempat Wisata Baru di Bojonegoro itu Bernama Maliogoro

Pos 3 – Pos 4

Menurut saya, perjalanan dari pos 3 ke pos 4 merupakan yang terpanjang di jalur pendakian Gunung Ciremai via Apuy. Meski begitu, karakter jalurnya masih tergolong ramah karena tanjakannya belum yang ekstrem. 

Karena di beberapa tanjakan, rutenya dibuat agak memutar. Sehingga beban pada otot kaki tidak terlalu besar seperti tanjakan lurus. Jalur tanah dengan vegetasi hutan masih cukup mendominasi, memberi suasana teduh yang membantu menjaga stamina.

Pos 4 – Pos 5

Perjalanan dari Pos 4 menuju Pos 5 memang tidak terlalu jauh, tapi jangan dianggap remeh. Pada fase ini, tanjakan mulai terasa lebih menantang dengan jalur yang cenderung menanjak terus tanpa banyak bonus landai. 

Stamina kamu sangat menentukan. Jika bagus, tidak terlalu jadi masalah. Namun jika kurang baik, apalagi tidak dilatih sebelumnya. Mungkin kamu akan memilih untuk menyerah. 

Saat peperangan mental terjadi, teman pendakian memiliki peran yang besar untuk menguatkan kita. Dan berujung pada kaki yang melangkah sedikit demi sedikit, tapi konsisten. 

Penanda fase ini akan berakhir adalah adalah lorong alami yang menyerupai gua. Tak lama, kamu akan sampai di Pos Bayangan. Area Pos Bayangan hingga Pos 5 menjadi favorit pendaki untuk mendirikan tenda karena relatif terlindung dari angin dan memiliki ruang yang cukup lapang. 

Baca Juga: 10 Mitos Gunung Slamet yang Harus Kamu Tahu Sebelum Mendaki

Pos 5 – Simpang Apuy

Kebanyakan pendaki yang bukan tektok camping di pos 5 atau pos bayangan. Sehingga perjalanan menaklukan rute ini terbilang memiliki tenaga yang cukup. Agar prosesi summit attack tidak kesiangan, kamu bisa memulai pendakian dari jam 4 subuh. 

Memasuki rute Pos 5 – Simpang Apuy, pendaki akan menghadapi rute yang terasa cukup panjang dengan tanjakan yang konsisten tanpa banyak jeda. Meski tidak ekstrem, karakter jalurnya menuntut stamina yang stabil.

Jalur menuju Simpang Apuy didominasi tanah padat dengan minim batu kerikil, sehingga pijakan relatif lebih aman dan tidak terlalu licin saat kering. Meski begitu, saat musim hujan, tanah bisa berubah menjadi licin dan menguras tenaga. 

Gunakan sepatu dengan grip yang baik dan tetap jaga jarak antar pendaki agar perjalanan menuju Pos 5 tetap aman dan nyaman.

Simpang Apuy – Goa Walet

padang bunga edelwies gunung ciremai

Setelah sampai di simpang apuy, jalur akan semakin menantang daripada sebelumnya. Jalurnya didominasi campuran tanah padat dan batu kerikil yang cukup licin saat basah, sehingga harus sangat hati-hati dalam melangkahkan kaki. 

Pada beberapa titik, tanjakannya cukup curam dengan pijakan yang kurang stabil. Jadi sangat penting untuk mengatur napas dan jangan terburu-buru agar stamina tetap terjaga. Meski medannya menguji fisik, jalur ini menawarkan pemandangan yang jadi “obat lelah” bagi pendaki. 

Di sisi kiri jalur, terbentang hamparan padang bunga Edelweiss yang tumbuh alami dan memanjakan mata. 

Bunga abadi ini menjadi pengingat untuk tetap menjaga jalur dan tidak merusaknya. Cukup dinikmati dengan mata atau memotretnya agar abadi dalam tangkapan gambar.

Goa Walet – Puncak Ciremai 3078

Setelah sampai di Goa Walet, perjalanan tinggal selangkah lagi sampai di puncak tertinggi Jawa Barat. Oiya, untuk bisa sampai ke goanya, kamu harus belok ke kanan (arah dari bawah) kemudian turun sedikit dengan trek yang cukup menantang. 

Tak lama, kamu akan tiba di depan mulut goa. Gua walet tidak terlalu dalam, jadi aman kalau mau masuk. Di dalamnya juga ada genangan air, beberapa pendaki memanfaatkan genangan air ini tatkala perbekalan air yang dibawa ke puncak habis di jalan. 

Untuk melanjutkan perjalanan, kamu akan menempuh jalur medan terbuka dengan tanjakan curam yang menguras tenaga. Di sinilah mental, fisik, dan fokus benar-benar diuji, karena satu kesalahan kecil bisa berisiko tergelincir.

Secara teknis, jalur ini berupa bebatuan lepas dengan kemiringan yang bisa mencapai 45°, membuat setiap langkah harus diperhitungkan dengan matang.

Pendaki dituntut punya kemampuan memilih pijakan kaki yang tepat, menjaga keseimbangan tubuh, serta mengatur ritme napas agar tidak cepat kelelahan. 

Trek ini bukan sekadar soal kuat fisik, tapi juga soal teknik dan kesabaran.

Baca Juga: 7 Mitos Gunung Merbabu, Pendaki Wajib Tahu!

Jadi, Mau Mendaki ke Gunung Ciremai Kapan Nih?

sunrise gunung ciremai via apuy

Itulah ulasan lengkap tentang jalur pendakian gunung Ciremai via Apuy. Bagi saya, jalur ini yang paling nyaman daripada jalur di gunung lainnya yang pernah saya daki. Bonusnya banyak, suasananya sejuk, serta pemandangannya yang luar biasa.

Kalau kamu baru pertama kali mendaki, pastikan memiliki leader pendakian yang berpengalaman. Bagi saya, selama kamu didampingi oleh anggota & pemimpin pendakian yang tepat. Halang rintang apapun, Insha Allah bisa dilalui dengan baik. 

Karena leader yang baik akan mengarahkan anggota baik saat mendaki, maupun sebelum pendakian. Ingat! Pengalaman pertama yang akan menentukan. Apakah kamu kecanduan mendaki gunung, atau malah kapok. Kuncinya, jangan sampai salah pilih partner mendaki, ya!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *