Pendakian kedua menuju puncak Gunung Slamet via Bambangan adalah hal yang tak pernah bisa saya lupakan.
Kalau kamu pernah baca buku The Naked traveller, karya kak Trinity, kamu mungkin gak asing dengan kalimat “Pengalaman pertama haruslah menyenangkan”.
Namun pada pendakian perdana yang saya lakukan ke Gunung Slamet berujung pada kegagalan. Penyebab utamanya adalah persiapan sebelum mendaki gunung yang kurang saya lakukan.
Dampaknya, tenaga saya sudah habis saat sampai di pos 3. Tak hanya itu, logistik pendakian yang saya bawa pun kurang. Sangat tidak mungkin untuk memaksakan naik.
Andai saja waktu itu saya nekat, mungkin blog Insanus Mlaku hanya impian belaka.
Kegagalan pada percobaan pertama, tidak membuat saya menyerah. Saya justru semakin termotivasi untuk menggapai puncak tertinggi di Jawa Tengah ini.
Hingga akhirnya Pendakian ini pun terjadi!
Pendakian Gunung Slamet Jilid 2
Pendakian kali ini, saya akan didampingi oleh orang kepercayaan ayah, bernama mas Tono. Mas Tono adalah orang yang membantu ayah saya berjualan. Dia juga aktif menjelejah alam dan tergabung dalam komunitas bernama GMT.
GMT merupakan singkatan dari Gerakan Menolak Tua. Memang mayoritas anggotanya sudah berumur. Saya rasa itu alasan dibalik nama komunitas yang gemar trekking dan menguak keindahan alam Purbalingga itu.
Kecintaan saya terhadap dunia pendakian ini bermula dari gunung Slamet. Yap, gunung tertinggi di jawa tengah.
Makanya, kalau ada teman yang bertanya rekomendasi gunung yang cocok untuk pemula itu apa?
Saya tidak akan menjawabnya secara singkat. Gunung A, B, atau C, pasti dengan penjelasan.
Karena saya merasa, bukan apa gunung yang akan di daki. Tapi dengan siapa kamu mendaki. Partner pendakian adalah faktor paling penting untuk pendaki pemula.
Kalau kamu pintar memilihnya, saya yakin kamu pasti akan ketagihan mendaki. Namun jika kamu salah dalam memilih, maka pendakian perdanamu akan berubah jadi pendakian terakhir.
Jangan Cuma Fomo Kalau Mau Naik Gunung!
Memang puncak gunung slamet merupakan puncak pertama saya di dunia pendakian. Tapi, saya bisa mencapai puncak gunung slamet ini ketika dua kali mencoba mendaki.
Percobaan pertama bersama kaka sepupu, cuman bisa sampai ke pos 3 saja. Karena kurangnya pengetahuan dan perbekalan. Percobaan pendakian kedua bersama mas Tono.
Seperti yang sudah sedikit saya jelaskan, kali ini saya mendaki bersama seorang yang bisa dibilan ahli dalam bidangnya. Jadi rasa percaya diri saya untuk menggapai puncak gunung Slamet kian besar.
Urusan persiapan sebelum mendaki, dipikirkan dengan baik oleh mas Tono. Bahkan ia meminta saya untuk mulai olahraga, agar tidak terlalu lelah nantinya. Dan untuk memastikan otot-otot saya siap untuk diajak aktivitas fisik yang cukup berat.
Mulai Mendaki Gunung Slamet via Bambangan
Pendakian kedua ini terjadi pada 16 Agustus 2016. Kami mulai mendaki di malam hari, sekitar jam 9 malam. Waktu itu belum ada jalur baru, sehingga setelah melewati kebun warga, kami langsung menembus gelapnya hutan.
Tapi sekarang sudah ada jalur baru yang lebih terbuka. Jalur baru ini juga akan melewati tempat wisata dengan nama “View Slamet”. Pertemuan diantara dua jalur ini bertemu di atas pos bayangan jalur lama, sekarang pos bayangan itu dipindah ke pertemuan antara slamet jalur baru dan slamet jalur lama.
Balik lagi ke cerita pendakian saya dan mas Tono. Pendakian itu kali kedua saya mendaki gunung slamet, setelah yang pertama gagal karena kurangnya persiapan dan ilmu pengetahuan.
Pendakian kali ini saya lebih siap, dan tidak cuman modal nekat. Meskipun gear pendakian saya pada waktu itu belum lengkap. Tapi, semua itu bisa dicover oleh mas Tono.
Belum lama kami meninggalkan basecamp bambangan, saya sudah merasa pegal dan sakit, sehingga saya meminta berjalan perlahan, tak jarang juga berhenti.
Disitu saya merasakan kesabaran yang sangat luar bisa dari mas Tono, dia berjalan mengimbangi saya. Ketika kami sampai di pos bayangan mas Tono menyeduh teh panas dengan gula yang sangat banyak.
“Gulane sing akeh kie ya lip, karo nggo tenaga” katanya
“Manut bae aku mas”
Setelah minuman hangat jadi, kami sedikit mengobrol sembari menghisap rokok (sekarang saya sudah berhenti merokok). Di sela-sela perbincangan kami, ada dua orang pendaki asal Bogor, dan pendakian ini pertama kali bagi mereka ke gunung slamet.
Dengan segera, mas Tono menawarkan untuk mendaki bersama. Sejak saat itu, saya termotivasi lebih besar dan kuat untuk terus berjalan dan mengalahkan rasa lelah yang kerap kali datang.
Pertama karena saya ingin menggapai puncak gunung slamet. Yang kedua, karena saya malu. Masa pribumi kalah sama pendatang, motivasi yang membuat saya bisa lebih kuat dalam berjalan.
Padahal di gunung bukan tempat berlomba-lomba siapa yang paling kuat dan cepat. Tapi tentang kebersamaan dan kepedulian satu sama lain. Kalau berangkatnya bareng, pulang juga harus bareng. Nilai ini yang saya rasa mulai memudar.
Terus Berjalan Hingga Tempat Camp!
Perjalanan kami menjadi semakin asyik, karena sekarang ada 2 teman baru. Ritme pendakian masih sama, jalan perlahan. Kalau capek, ya berhenti, lalu istirahat. Jangan maksa.
Target tempat camp kami ada di Pos 5. Karena lokasinya sudah cukup dekat dengan puncak. Namun karena momentum 17 agustusan (terkenal dengan upacara puncak) jadi pendaki membludak hebat di gunung slamet waktu itu.
Hampir setiap pos yang kami lewati itu penuh dengan tenda pendaki, sampai-sampai pos 4 yang dilarang karena mitosnya pun ramai dengan tenda pendaki.
Karena di pos 4 waktu itu sedang ramai, jadi kami (mas Tono, saya dan dua pendaki dari Bogor) beristirahat lumayan lama disitu. Saya dan salah satu pendaki dari bogor itu seumuran, sementara satunya lagi seumuran dengan mas Tono.
Semacam Alif dan Tono dari Bogor, begitulah kira-kira. Jadi saya dan Alif Bogor itu duduk terdiam sembari menyenderkan tas carrier yang kian lama beratnya seperti sekor gajah raksasa.
Cerita Tentang pos 4
Sementara mas Tono dan Tono Bogor mengobrol dengan sesama pendaki yang ada di pos 4 waktu itu. Ketika berada di pos 4 ini saya teringat cerita ayah, begini ceritanya :
Neng pos 4 kue ya lip, ayah pernah ngaso nang wit gede. Nang kancane ayah, dikon mlaku maning, jarene ngaso suene nang pos 5 apa seurunge. Intine aja pas neng pos 4. Mbarang uis tekan neng gon tempat ngaso, kancane ayah mau cerita. Yen neng nduwure ayah kue ana macan sing uis siap arep nerkam, mbuh macan temenan apa macan luhur, ora paham.
Selain cerita dari ayah, saya juga teringat mitos-mitos yang pernah terjadi di pos ini. Katanya kalau ada yang camp di pos 4, ketika tengah malam akan ada pendaki yang meminta air atau menganggu tenda kita.
Nah, ketika pintu tenda di buka, ternyata pendaki itu tidak ada kepalanya. Ternyata kepalanya berada di dalam tenda. Ada banyak sekali mitos-mitos tentang pos 4 ini.
Pos 4 ini bernama “pos samaranthu” menurut mitos yang beredar arti dari nama pos 4 ini adalah samar-samar hantu. Padahal, menurut senior saya di sispala dulu, samaranthu ini adalah nama pohon, bukanlah samar-samar hantu.
Seketika, mas Tono dan Tono Bogor membangunkan saya dan Alif Bogor. Mengajak untuk melanjutkan perjalanan lagi sampai ke tempat camp yang sudah kami sepakati di awal, yaitu pos 5.
Tiba di Tempat Camp (Pos 5)
Singkat cerita kami sampai di pos 5, dan keadaannya sudah sangat penuh dan sesak. Rasanya tidak mungkin untuk mendirikan tenda.
Mas Tono dan Tono Bogor, berkeliling mencari tempat untuk kami beristirahat. Sementara saya dan Alif Bogor tertidur di pangkuan carrier yang nyaman dan setia ini.
Entah berapa lama kedua orang itu mencari tempat, alhamdulillahnya masih dapat tempat yang cukup untuk mendirikan satu tenda, walaupun tempatnya tidak rata alias miring.
Akhirnya tenda dari rombongan Bogor ini yang di dirikan dan flysheet yang lebar juga dipasang. Nantinya saya dan mas Tono akan tidur di luar tenda beratapkan flysheet, berselimutkan sarung dan suara sunyi alam di pagi itu.
Setelah semua beres, kami sedikit masak-masak untuk pengganjal agar tidur kami nyenyak, karena nantinya kami harus melanjutkan perjalanan lagi, Summit attack!!
Ketika saya akan memejamkan mata, terlihat cahaya indah yang berusaha masuk ke dalam hutan melalui celah-celah diantara rimbunnya pepohonan.
Yap, sunrise pertama saya, indahnya tidur saya waktu itu, ditemani dengan mentari yang kembali bertugas menyinari dunia ini. Selamat tidur.
Sisi Egois Pada Diri Saya
Sekitar pukul 07:30 saya terjaga dan bergegas memasak sarapan, egois betul saya waktu itu, memasak hanya untuk diri sendiri dan makan sendiri.
Setelah itu saya menuju ke puncak sendiri, karena teman-teman yang lain susah bener di banguninnya. Sepertinya mereka masih capek sehingga ketika dibangunin susahnya minta ampun.
Karena saya pernah gagal mencapai puncak di pendakian pertama ke gunung slamet, saya tidak mau hal yang sama terulang lagi jadi saya memutuskan untuk mendaki sendiri dan meninggalkan teman-teman yang sedang terlelap.
Diperjalanan menuju puncak ini, saya berjalan seorang diri dan berbekal air minum berwadahkan veples. Ketika sampai di vegetasi hutan mati, saya bertemu rombongan dari cilacap, dan akhirnya kami memutuskan untuk mendaki bersama mencapai puncak surono.
Mereka bertiga dan saya sendiri, terciptalah grup baru beranggotakan 4 orang, semuanya laki-laki. Singkatnya, kami berempat berhasil mencapai puncak dengan susah payah dan sempat menyerah di pertengahan jalan.
Tapi ada pendaki lain yang memberikan semangat “nanggung mas bentar lagi sampai puncak, udah keliatan tuh” seketika tenaga kami terisi kembali, dengan semangat dan motivasi kami menapakan jejak kaki yang lunglai.
Sampai di Puncak Gunung Slamet via Bambangan
Dipuncak kami menikmati pemandangan dan ber-swafoto demi dokumentasi pribadi, saat itu belum kepikiran upload di instagram, karena saya pengguna setia facebook.
Kami sempat berbincang, dari sekian banyaknya hal yang diperbincangkan. Saya hanya mengingat “ternyata puncak cuman kayak gini tok ya mas”.
Ketika, kami akan turun dan kembali ke tempat camping. Ternyata mas Tono dan dua orang teman dari Bogor itu sudah sampai juga di puncak. Akhirnya, saya berada dipuncak lebih lama lagi, dan kembali ke rombongan awal saya, disitu saya sedikit diceramahi oleh mas Tono, cuman lupa kaya gimana.
Udah dulu ceritanya yaa … Masih banyak cerita lainnya dari Insanus Mlaku yang gak kalah seru dan menarik. Yuk eksplore bareng.
See you!