Saya menggunakan Dhaulagiri HL 858 saat pendakian Gunung Ciremai via Apuy. Jujur, saya sudah cukup lama mengincar headlamp ini. Yang bikin jatuh cinta adalah warna birunya yang memikat, dan ringan. Saya termasuk pendaki yang agak kurang nyaman kalau harus pakai headlamp berlama-lama, sehingga kenayamanan adalah faktor utama yang saya pilih.
Headlamp ini punya berat unit tanpa baterai hanya sekitar 51,5 gram, sedangkan ketika sudah terpasang baterai totalnya sekitar 84,9 gram. Bobot tersebut membuat kepala tidak cepat terasa pegal meskipun digunakan selama pendakian.
Selain ringan, strap atau karet kepalanya juga terasa cukup lembut. Tekanannya pas sehingga tidak terlalu menyiksa kepala ketika digunakan berlama-lama. Headlamp ini juga stabil dan tidak mudah bergeser saat berjalan di jalur pendakian.
Uji Coba di Jalur Pendakian Ciremai
Dari sisi pencahayaan, Dhaulagiri HL 858 mampu menghasilkan cahaya yang terang dan cukup membantu ketika melewati jalur Gunung Ciremai pada malam atau pagi hari ketika akan summit attack. Cahayanya cukup untuk menyinari jalur secara lebar dan merata. Dengan begitu, kamu bisa lebih percaya diri dalam melangkahkan kaki.
Headlamp ini masih menggunakan tiga baterai AAA sehingga saya harus membawa baterai cadangan untuk mengantisipasi kehabisan daya selama pendakian. Hal tersebut memang sedikit kurang praktis daripada headlamp yang sudah menggunakan baterai rechargeable.
Meski demikian, penggunaan baterai AAA juga memiliki keuntungan tersendiri. Ketika daya habis, saya hanya perlu mengganti baterainya tanpa harus menunggu proses pengisian ulang. Selama membawa baterai cadangan, headlamp ini tetap dapat diandalkan untuk perjalanan yang cukup panjang.
Secara keseluruhan, Dhaulagiri HL 858 menurut saya layak dipertimbangkan bagi pendaki yang mencari headlamp ringan, terang, dan nyaman digunakan. Selama kamu tidak keberatan membawa beberapa baterai cadangan, performanya sudah sangat memadai untuk kebutuhan hiking, camping, maupun aktivitas outdoor lainnya.
Sekian..




