Bu, aku pergi yaa. Doakan saja aku pulang dengan selamat…
Memiliki hobi yang extream acapkali menjadi kekhawatiran tersendiri bagi orang tua, khususnya Ibu. Entah berapa banyak pengalaman dan ilmu yang kamu miliki, Atau bahkan seberapa sering kamu terlepas dari maut. Jangan pikir itu cukup menghilangkan rasa khawatir.
Seorang anak memang akan terlihat seperti bayi bagi ibunya, tak peduli berapa umurnya. Ibu akan senantiasa memanjakannya.
Saya seringkali disuruh berhenti menjalani hobi mendaki gunung, lebih baik diam dan tidur di rumah yang penuh kehangatan. Meskipun begitu, saya tetap mengeyel. Dan kembali pergi mendaki lagi, lagi, dan lagi.
Memahami Kekhawatiran Seorang Ibu
Coba bayangkan, selama 9 bulan lamanya ibu mengandung kita. Kemanapun ia pergi, kita selalu diajak. Ia tak pernah mengeluh, walau penat menghampiri.
Tugas seorang ibu tak hanya berhenti disitu, masih ada proses pertaruhan nyawa yang harus dijalani, yaitu melahirkan. Ketika proses ini terjadi, semua tenaga hingga bertaruh nyawa dilakoni dengan ikhlas dan penuh sabar.
Kemudian ketika kita sudah besar dan mau menjalan hobi yang ekstream dan menantang maut. Saya rasa tak semudah itu untuk tenang. Rasa khawatir ini muncul karena seseorang pernah menjalankan proses yang sama (bertaruh nyawa), dan berhasil melaluinya. Tapi belum tentu dengan yang lain.
Jadi mau bagaimanapun, rasa khawatir pasti akan selalu ada. Karena seorang ibu tak ingin anaknya bertaruh nyawa, cukup ia saja yang merasakan.
Baca Juga: 5 Tips Menjadi Travel Blogger yang Sukses!
Ritual Meminta Izin Pergi Mendaki
Dalam meminta izin untuk pergi mendaki, saya biasanya harus melewati 2 firewall. Yang satu cukup mudah untuk ditembus, sementara satunya lagi terlampau sulit.
Firewall yang pertama adalah izin Ayah, biasanya ia memberikan pertanyaan seperti:
- Kapan waktu mendaki gunungnya?
- Mendaki ke gunung mana?
- Sama Siapa aja?
- Budgetnya sudah ada?
- Adakah teman yang sudah pernah mendaki ke gunung itu?
Jika kelima pertanyaan tersebut berhasil saya jawab dengan meyakinkan, maka perijinan akan turun. Yang penting, waktu mendakinya tidak terlalu mepet dan ada seorang teman yang pernah mendaki.
Kalau belum ada yang pernah, at least ada teman yang memiliki pengalaman pendakian melimpah. Jadi Ayah bisa lebih tenang.
Namun minta ijin mendaki ke Ibu tidak akan semudah itu. Kalau ke Ibu sangat bergantung pada mood dan kondisi. Nah, kalau baru ada berita duka dari dunia pendakian. Sudah pasti, 100% saya tidak akan di ijinkan.
Kalau proses perijinan ke Ibu terlampau sulit, saya akan memohon kepada Ayah untuk membantu menjelaskan dan memberikan ketenangan kepada Ibu.
Tanpa Restumu! Aku Tak Akan pergi dari Rumah

Walaupun Ayah sudah memberikan ijin, tapi kalau Ibu berkata tidak, ya saya gagal untuk mendaki. Bukan masalah takut atau gimana, tapi lebih cari selamat.
Karena pernah waktu itu saya mendaki dengan teman SMK yang berbohong. Alhasil ketika mendaki mengalami masalah. Waktu itu, kami hendak mendaki ke gunung Slamet.
Waktu pendakian kala itu bertepatan dengan musim hujan, sehingga sepanjang pendakian kami diguyur hujan tanpa henti. Bahkan jalur pendakiannya berubah menjadi aliran sungai.
Kami berjalan dengan sangat pelan karena tas carrier yang digendong bertambah berat 2x lipat karena basah. Singkat cerita, kami terpasak camping di pertemuan jalur Bambangan dan Dipajaya.
Gak pas percabangannya sih, tapi naik sedikit dan ada sedikit lahan luas di kiri jalur. Disitulah kami camping.
Kami mendirikan tenda dalam kondisi masih hujan, jadi bagian dalam tenda agak basah. Waktu itu, persiapan mendaki gunung saya belum se-serius sekarang. Jadi masah ada saja peralatan mendaki yang tidak ada, padahal itu sangat penting.
Setelah tenda berdiri, kami segera menghangatkan badan dan memasak logistik pendakian, dan berakhir tertidur. Tepat pukul 2 pagi kami terbangun karena seorang teman yang mengeluhkan dadanya yang sakit.
Kami terjaga hingga waktu shubuh, dan selama itu pula keluhan dada yang nyeri tak kunjung hilang. Hingga akhirnya ia bercerita bahwa dirinya tidak ijin akan mendaki gunung, dan menyesali perbuatannya. Tak lama kemudian rasa sakitnya hilang dan iapun tertidur.
Baca Juga: 5 Manfaat Rutin Konsumsi Cincau Hijau untuk Tubuh
Masih Berani Pergi Mendaki Tanpa Ijin?
Berkat kejadian itu saya berpikir sembari bersyukur. Ternyata restu orang tua sangat berdampak pada perjalanan anaknya. Coba bayangkan, jika pada pagi hari itu teman saya kondisinya kian memburuk, dan hal yang tak di inginkan terjadi.
Betapa besar penyesalan yang akan dirasakan?
Kenekatan itu juga berujung pada luka di hati orang tua. Ia merasa terbohongi dan harus menerima kenyataan buruk yang terjadi pada anaknya yang nekat mendaki tanpa ijin.
Untungnya, hari itu teman saya selamat. Kami bisa pulang dengan selamat. Alhamdulillah…
Alasan Pergi Bertualang adalah untuk Kembali Pulang!

Setiap kejadian selama saya bertualang selalu mengingatkan saya pada Ibu. Sebab, belum banyak kebaikan yang bisa saya berikan, belum ada kebahagiaan yang berhasil saya ciptakan.
Setiap kejadian yang saya alami, selalu ada hikmah yang bisa saya ambil. Ketika saya hendak pergi ke Ciparempeng, dan motor saya mengalami kendala.
Seketika saya berusaha mengingat-ingat, “Apakah ada kesalahan yang saya lakukan kepada Ibu, sehingga perjalanan saya terhambat?”
Jika memang ada, tolong maafkan saya, bu.
Pernah beberapa kali saya memberikan hadiah kecil kepada Ibu, namun wajah tidak menunjukan ekspresi apa-apa, datar saja.
Apakah hadiah saya kurang besar? Ataukah saya harus lebih rutin memberikan hadiah?
Setelah sering pulang – pergi masuk gunung dan kota. Saya tersadar, bahwa hadiah terbesar yang bisa diberikan pada Ibu adalah kepulangan dengan selamat.
Keselamatan kita sudah cukup untuk Ibu dan mampu membuatnya tersenyum lebar.
Kepulangan Anaknya adalah Hadiah Terbesar Bagi Ibu

Ibu saya bertanya mengenai pendakian saya kala itu, meski kadang saya menceritakan secara singkat karena lelah. Meskipun begitu, Ibu tetap mendengarkan dengan seksama. Dan menanyakan beberapa bagian dari cerita saya yang tidak Ibu mengerti.
Begitulah Ibu, meski saya sudah bukan anak kecil lagi yang harus disuapi. Tapi bagi seorang Ibu, saya masih seperti balita yang perlu perhatian penuh dan kasih sayang.
Tak heran, ketika saya meminta izin untuk mendaki. Pasti Ibu mencari berbagai macam cara untuk menggagalkan niat saya pergi.
Semua itu Ibu lakukan semata-mata untuk melindungi anaknya yang agak nekat ini.
