Gagal upacara puncak karena ada pendaki yang kesurupan di gunung Slamet.
Salah satu pilihan terbaik untuk merehatkan sejenak tubuh dari padatnya aktivitas bisa dilakukan dengan mendaki gunung.
Ketika mendaki, itu tandanya kamu sepakat untuk menjamah tempat yang mungkin kurang diketahui asal-usulnya serta paham akan resiko yang akan dihadapi.
Apakah pernah diadakan ritual di gunung tersebut? Kasus pembunuhan? Atau hal serupa lainnya.
Meskipun begitu, kamu bisa kok memilih bulan-bulan tertentu yang tidak terlalu “Menyeramkan”. Sehingga resiko dihadapi akan semakin kecil.
Salah satunya mungkin pada bulan Agustus. Bulan Agustus adalah bulan istimewa bagi bangsa Indonesia, karena di bulan ini kita terlepas dari belenggu penjajahan.
Tanggal 17 Agustus Indonesia mengumumkan pada dunia kemerdekannya. Berbagai cara dilakukan untuk ikut serta memeriahkan kemerdekaan bangsa Indonesia. Salah satunya dengan upacara puncak.
Pada tanggal 16 Agustus 2018, saya dan seorang sahabat bernama Prima memutuskan untuk melakukan pendakian ke Gunung Slamet dengan tujuan melaksanakan upacara kemerdekaan di Puncak Gunung.
Sebuah Rencana Mendaki ke Gunung Tertinggi di Jawa Tengah

Prima dan saya dipertemukan dalam wadah Siswa Pecinta Alam Purbalingga (Apela). Ia memiliki postur tubuh yang cukup menggoda, tak hanya fisik yang mumpuni, staminanya pun luar biasa banyak.
Rencana kami mendaki adalah untuk dan melaksanakan upacara puncak. Jujur, rencana pendakian ini cukup mendadak. Karena H-3 pendakian, kami baru kepikiran untuk mendaki dan mulai merencanakannya dengan baik.
Bermodalkan alat sederhana dan budget pas – pasan, kami memutuskan mendaki melalui jalur Bambangan. Pada tahun 2018, persyaratan mendaki belum seketat dan seribet saat ini. Karena dulu, saya hanya perlu membayar tiket masuk dan parkir motor saja. Untuk dua orang, kira-kira biaya yang dibutuhkan hanya Rp 50.000.
Selain cukup murah, jarak antara basecamp Bambangan dari rumah saya tidak terlalu jauh. Hanya membutuhkan waktu 45 menit berkendara dengan roda dua.
Sesampainya di basecamp Bambangan, saya bergegas pergi ke kamar mandi untuk memenuhi panggilan alam yang sedari tadi ditahan.
Hasrat Prima untuk segera melakukan pendakian kian tak terbendung. Hanya sebentar saya pergi ke kamar mandi, tapi segala perlengkapan sudah tertata rapih. Sedangkan Prima? Ia tengah asih menghisap asap rokok sembari leyeh-leyeh.
Kemampuan packing memang penting, sehingga peralatan dan logistik pendakian bisa masuk dengan sempurna. Dan yang paling penting adalah nyaman ketika di gendong. Walaupun kala itu, kami hanya menggunakan tas carrier tua boleh meminjam. Tapi rasanya, seperti menggunakan carrier dengan backsystem unggulan.
Rekomendasi
Partner Setia di Tiap Pendakian
Kapasitas 60L, berat hanya 1.4kg. Kuat menampung semua logistik, ringan saat dibawa mendaki. Arei Toba: Standar baru kenyamanan pendaki.
“Mayuh mangkat lif” ajak Prima dengan penuh semangat.
“Dela kie, tek packing dimin. Tas’e ko sih ws temata. Tas’e nyong rung beres kie, dela ya. Udud bae disit, udud maning” saya membalas sembari merapihkan perlengkapan.
Kami berencana untuk sarapan di pos 1 jalur, namun belum sampai ditempat tujuan, perut sudah keroncongan. Akhirnya kami pun makan di pinggir jalur pendakian.
Ketika sedang asik mengunyah, lewatlah satu rombongan beranggotakan 4 perempuan dan 2 laki-laki. Kami bertergur sapa dan saling memberikan semangat.
Baca Juga: 10 Mitos Gunung Salak Paling Seram! Pendaki Wajib Tahu
Pertemuan dengan pendaki asal Cilacap

Rombongan itu menyapa dengan penuh hangatnya. Dengan penuh susah payah kami menyemangati rombongan itu, begitupun sebaliknya.
Tak lengkap rasanya, jika tidak menikmati isapan rokok sehabis makan. Seberes makan dan memastikan tidak ada sampah yang tertinggal kami-pun melanjutkan perjalanan.
Sebelum sampai pos bayangan kami bertemu lagi dengan rombongan yang tadi menyapa sewaktu makan, ternyata rombongan tersebut berasal dari Cilacap. Setelah mengobrol singkat, kami memutustukan untuk mendaki bersama.
Ada sebuah alasan yang akhirnya membuat kami mengajak mereka untuk mendaki bersama. Kami menilai, mereka kurang persiapan. Coba kamu bayangkan, dengan jumlah 6 anggota mereka hanya berbekal air minum sebanyak 6 botol ukuran 1,5 L (total 9 liter) dan mie instan sebanyak 12 bungkus. Betapa nekatnya mereka.
Singkatnya kami bergabung dan menjadi satu rombongan besar berjumlah 8 orang.
Di sela-sela istirahat saya meminta mereka untuk menambah lagi perbekalan air dengan membeli dari warung yang ada di pos 1 itu.
Karena masalah logistik pendakian, kita bisa saling berbagi. Sehingga kebutuhan nutrisi bisa tercukupi dengan baik. Selepas packing ulang, Kami berjalan dengan perlahan, menikmati indahnya perjalanan sembari mengatur tempo pendakian.
Ketika kami sampai di pos 3 keadaan sudah gelap, melihat kondisi teman-teman yang sudah kelelahan dan tidak memungkinkan untuk melanjutkan perjalanan.
Akhirnya kami memutuskan untuk bermalam di pos 3. Sebelum mendirikan tenda, kami berleha-leha sejenak untuk menghilangkan penat setelah sekian jam berjalan.
Ada yang ngemil, ada yang ngerokok, ada pula yang gak jelas jalan mondar-mandir. 4 orang srikandi dari rombongan kami terlihat sangat kelelahan.
Kesurupan di pos 3 gunung slamet via bambangan
Kami para lelaki membiarkan mereka beristirahat sejenak dengan pulasnya, sembari kami mengumpulkan kembali niat untuk mempersiapkan kemah.
Namun, selang beberapa saat srikandi itu mulai menunjukan kejanggalan. Mengigo, kedinginan, dan badan kaku.
Hal tersebut membuat kami panik sekoyong-koyong, kami segera berkumpul untuk berusaha menyadarkan dia secepatnya. Mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan terjadi.
Agar kerja kami jauh lebih efektif dan efisien, kami membagi-bagi tugas.
Saya dan dua laki-laki asal cilacap mendirikan tenda, sedangkan prima dan para srikandi berusaha untuk menyadarkan dia yang kian mengkhawatirkan sembari membuatkan minuman hangat.
Selang beberapa saat, kami bertemu dengan salah seorang senior yang ada di wadah Siswa Pecinta Alam Purbalingga. Senior tersebut bernama Yogi.
Akhirnya, mereka berdua (Prima dan Yogi) berjibaku untuk menyadarkan srikandi tadi itu.
Segala treatment mengatasi hiportemia sudah diberikan. Akan tetapi, tidak ada reaksi yang terjadi atau mengarah ke yang lebih baik. Kami hampir putus asa kala itu.
Ditengah keputusasaan kami, Prima membisikan ide untuk melantunkan ayat kursi ke telinga srikandi itu. Entah dari mana datangnya ideunik tersebut, namun ketika ayat suci Al-qur’an dilantunkan tepat di bibir telinga, ia bereaksi.
Kami bingung sekaligus senang. Apa yang dipikirkan oleh prima bahwa ia bukan terkena hipo, melainkan kerasukan benar adanya.
Baca Juga: 7 Mitos Gunung Merbabu, Pendaki Wajib Tahu!
Menenangkan Setan yang Marah
Yogi dan Prima yang lebih memahami keadaan si perempuan itu, sehingga mereka yang menangani dengan lebih serius. Sementara saya dan yang lainnya membantu sebisa mungkin.
Hal yang membuat suasana semakin mencekam adalah ketika kami memperhatikan tangannya yang mulai kaku dan berbicara dengan nada penuh amarah khas lelaki tua. Serak, berat, dan menekan.
Bohong jika saya tidak takut. Tapi jujur, rasa takut tersebut kalah oleh rasa khawatir. Kami khawatir ia tidak selamat.
Perlu waktu yang cukup lama untuk mengetahui dari mana jin itu masuk dan mengikuti dia. Yogi dengan si perempuan itu berdialog cukup lama. Tapi akhirnya, Yogi bisa menemukan sumber kerasukan si perempuan.
Sumbernya berasal dari cincin yang ia kenakan. Saya, Yogi, dan Prima kebibungan, bagaimana bisa cincin yang indah itu mampu menarik perhatian ‘bangsa yang tak terlihat’?
Mungkin kebingungan yang terlukis oleh wajah kami sangat jelas, sehingga direspom oleh teman-temannya dengan sebuah narasi penjelasan. Mereka saling dorong untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
Baca Juga: 5 Tips Memilih Open Trip Gunung yang Aman & Terpercaya
Karena sudah menyangkut keselamatan si perempuan, membuat mereka buka suara.
“Jadi gini mas, ada yang suka sama sama si mbak A (srikandi yang kerasukan). Tapi mbaknya ndak suka, jadi si cowo itu menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya. Termasuk menggunakan ilmu-ilmu yang gak jelas aturannya” ujar salah seorang srikandi yang ada di rombongan kami.
“Tapi kok sumbernya dari cincin mbak?” tanya saya penuh rasa penasaran.
“Oooh, masalah cincin itu. Karena si cowo itu menggunakan ilmu-ilmu yang ndak jelas, maka si mbak A dibawa ke orang pinter. Untuk menangkal serangan dari si cowo mbak A dikasih cincin yang berisi mahluk yang lebih kuat dari yang digunakan si cowo itu mas” ujar srikandi itu dengan terbata-bata.
Orang Jawa memang masih terkenal dengan kebudayaan dan keyakinan akan hal-hal yang seperti itu. Penjelasan tadi menenangkan kami dan membuat kami lebih waspada kepada mbak A. Antisipasi agar hal yang seperti tadi tidak terjadi lagi.
Dari Skeptis, Jadi Percaya Setan
Saya yang awalnya kurang percaya terkait setan dan kisah mistis lainnya, seolah diperlihatkan bukti bahwa kita itu hidup berdampingan.
Mendekatkan diri kepada sang pencipta serta melaksanakan segala perintah dan menjauhi segala larangannya wajib dilaksanakan. Kita melaksanakannya sebagai wujud ketaatan kita kepada sang pencipta dan senantiasa diberikan perlindungan-Nya dari segala marabahaya.
Singkat cerita. Kami melanjutkan kembali perjalanan di esok hari dengan tujuan menggapai puncak gunung Slamet. Alhamdulillah, kami berhasil sampai puncak dengan selamat dan tidak ada cerita kejanggalan apapun lagi. Yogi yang awalnya solo hiking akhirnya gabung dengan rombongan kami.
Jadi totalnya kami mendaki bersembilan.
Kejadian yang Serupa, Namun Beda Korban
Sesampainya di basecamp Bambangan, kami melihat lagi seorang perempuan yang sedang mengigau. Konon katanya, sedari awal menunjukan gejala terserang hipotermia. Namun sudah diberikan treatment yang tepat, belum juga ada perubahan.
Saya dan Prima saling melirik, kami berbicara dalam diam. Akhirnya, prima berucap.
“Sepertinya ada yang nggak beres deh mas, coba masnya bacain ayat kursi di deket telinga mbaknya mass” kata Prima penuh harap.
“Baik mas” balas teman si mbak.
Kemudian, mbak-mbak tersebut menunjukan reaksi yang sama persis dengan mbak A sewaktu berada di pos 3 kemarin.
Baca Juga: Daftar Lengkap Alat untuk Kemah Biar Camping Tetap Nyaman
Tak lama setelahnya lewat seorang bapak-bapak, dan bertanya ada apa. Setelah kami menjelaskan secara singkat kondisinya, mbak-mbak tersebut langsung ditangai dengan intens oleh bapak-bapak itu.
Si bapak terlihat sedang melantunkan sesuatu tapi tidak keras, jadi kami hanya bisa melihat dan berharap semoga mbaknya bisa disembuhkan.
Setelah selesai melantunkan dan mengusapkannya ke tangan dan muka mbaknya. Alhamdulillah mbaknya sadar dengan penuh kebingungan. Mungkin karena ia dikerumuni oleh banyak orang.
Tak lama setelahnya, teman-teman yang lain pun memeluknya dengan erat. Semenjak kejadian ini saya jadi percaya bahwa kita hidup berdampingan dan harus saling menghormati. Sehingga hal-hal yang tidak diinginkan bisa dihindari.
Yang harus dipercaya adalah kita punya Tuhan yang maha Menciptakan. Jangan menyekutukan-Nya apalagi meremehkan kuasanya.
Percaya atau Tidak, Terserah Padamu!

Cerita tadi adalah kisah yang saya alami dan lihat sendiri. Awalnya saya juga tidak terlalu percaya dengan cerita-cerita kesurupan di Gunung. Namun ketika mengalaminya sendiri, pandangan saya pun berubah.
Cerita ini tidak perlu dipercaya jika memang kamu ragu, karena tujuan saya adalah mendokumentasikan perjalanan melalui tulisan.
Namun yang paling penting adalah mempersiapkan kondisi fisik dan pengetahuan sebelum mendaki gunung. Tanpa persiapan yang matang, kamu akan menghadapi petualangan yang mengerikan. Bahkan nyawa taruhannya!
Udah dulu ceritanya yaa … Masih banyak cerita lainnya dari Insanus Mlaku yang gak kalah seru dan menarik. Yuk eksplore bareng.
See you!
