Pengalaman saya menggunakan 910 Yuza Echoes dimulai dari 14 Februari 2025. Dorongan terbesar membeli sepatu ini adalah kekurangan budget untuk beli sepatu gunung, sementara saya sudah tidak punya sepatu untuk mendaki.
Akhirnya saya memutuskan untuk membeli sepatu trail running, dan langsung kepikiran sama brand 910. Pengalaman saya dengan 910 cukup positif sejak tahun 2018. Sehingga saya hanya fokus riset sepatu 910 saja.
Bisa dibilang, saya cukup visual. Alasan utama saya memilih Yuza Echoes adalah desainnya yang unik dan warna yang nyaman di mata saya. Walaupun sebenarnya kalau di gunung kita perlu menghindari warna hijau ya.
Bukan perkara mistis, tapi jika sesuatu hal buruk menimpa kita. Tim SAR & Relawan akan dengan mudah menemukan, karena peralatan yang kita gunakan memiliki warna yang kontras dengan vegetasi di alam.
Meskipun begitu, saya tetap jatuh cinta pada warna hijau Yuza Echoes.
Setelah menonton review orang lain di YouTube, saya mantap untuk membeli sepatu trail running ini.
Mari fokus pada kelebihannya dulu. Untuk performa, sebetulnya sepatu ini tergolong cukup. Yang paling jelas saya rasakan adalah rasa ringan di kaki.
Satu pasang Yuza Echoes ukuran 43 memiliki berat 600-an gram. Bobot sepatu yang ringan ini disebabkan oleh penggunaan material Single Mesh dengan teknologi Maxi Breathe Upper.
Bila dibandingkan dengan sepatu gunung yang sering saya pakai dulu,Yuza Echoes jauh lebih ringan. Jauh sekali.
Dengan beban yang lebih ringan, kaki jadi lebih mudah untuk melangkah. Ada sensasi semangat, bukan malas-malasan.
Selain itu, sepatu yang ringan ini juga membuat energi saya jauh lebih hemat. Sehingga saya bisa mendaki tanpa kelelahan berarti. Uji coba pertama saya dengan Yuza Echoes adalah Gunung Kuta Sukamakmur.
Pada cuaca cerah dan trek tanah merah berbatu, grip Yuza Echoes cukup baik mencengkram. Walaupun saya merasa harus sedikit mengontrol kaki agar tidak kehilangan grip.
Jadi perlu sedikit kemampuan teknis dan pemilihan jalur yang tepat. Karena masih ada kemungkinan untuk tergelincir walaupun kondisi trek kering.
Nah, ada beberapa kekurangan yang saya rasakan selama penggunaan Yuza Echoes. Pada bagian ikatan, ada dua kekurangan yang sangat mengganggu mobilitas saya, yaitu:
Dua kekurangan itu cukup menjengkelkan. Selain itu, grip menjadi sangat lemah tatkala jalur basah.
Pengalaman saya adalah ketika mendaki ke gunung Slamet via Bambangan, Gunung Palasari Sukamakmur, dan Danau Cisadon.
Khusus danau Cisadon, saya melewati jalur sehabis diguyur hujan. Sementara gunung Slamet dan Palasari adalah diguyur hujan di perjalanan.
Menggunakan Yuza Echoes di tiga tempat tersebut harus sangat hati-hati. Sensasinya mirip menggunakan sandal karet ketika melewati lantai basah sehabis di pel.
Terlalu besar tenaga yang kita berikan, itu artinya kita akan terjatuh. Saya rasa, ketiga perjalanan di jalur yang basah dan trek berbatu itu memberikan luka pada outsole sepatu ini.
Simpelnya, Worth It. Karena kalau tidak sudah pasti saya akan cepat-cepat menjualnya.
Selama 1 tahun memiliki 910 Yuza Echoes, saya sudah menjelajah ke Gunung Kuta, Slamet via Gunung Malang, Gunung Palasari Bogor, Danau Cisadon, dan Gunung Ciremai via Apuy.
Selama pendakian tersebut, yang paling menjengkelkan adalah saya harus berulang kali mengikat ulang tali sepatu dan memperbaiki lidah sepatu.
Sisanya masih aman bagi saya.
Menurut saya, sepatu ini cocok untuk kamu yang sudah punya pengalaman mendaki yang cukup. Karena kakimu sudah tau & paham cara memilih pijakan dan mengeluarkan tenaga untuk memijaknya.
Untuk pemula mungkin kurang cocok, karena saya khawatir sering kepleset.
Sekian..
Alif adalah seorang petualang yang gemar mencari ketenangan di alam, menjajal peralatan baru, serta gemar menemukan experience baru daripada orang kebanyakan. Sangat mencintai jalur pendakian yang tidak populer, sehinga bisa berkomunikasi lebih intim dengan diri sendiri. Sudah aktif bertualang sejak masih kecil (gak pernah betah dirumah), hingga kini selalu menyempatkan waktu mengunjungi tempat indah di Indonesia!
Alif adalah seorang petualang yang gemar mencari ketenangan di alam, menjajal peralatan baru, serta gemar menemukan experience baru daripada orang kebanyakan. Sangat mencintai jalur pendakian yang tidak populer, sehinga bisa berkomunikasi lebih intim dengan diri sendiri. Sudah aktif bertualang sejak masih kecil (gak pernah betah dirumah), hingga kini selalu menyempatkan waktu mengunjungi tempat indah di Indonesia!