Mengenal konsep sustainable living untuk bantu cegah perubahan iklim!
Polusi udara yang kian masif di Jakarta adalah indikasi dari perubahan iklim. Sedangkan perubahan iklim itu sendiri menyebabkan berbagai bencana yang mengancam keselamatan mahluk hidup.
Jujur, saya tidak melebih-lebihkan. Tapi memang itu faktanya. Beberapa penelitian juga telah menyebutkan bahwa perubahan iklim akan mengancam kelangsungan hidup spesies yang hidup di darat dan laut. Tanpa terkecuali.
Sadar atau tidak, kita memiliki peranan yang cukup besar terhadap perubahan iklim. Efeknya memang tidak kita rasakan secara langsung.
Namun cepat atau lambat, segala ketakutan akan terjadi. Oleh karena itu, mulai detik ini, kita harus bekerja sama demi keberlangsungan hidup umat manusia.
“Kita tidak punya waktu untuk berpangku tangan saat planet kita terbakar. Bagi kaum muda, perubahan iklim lebih besar daripada pemilihan politik, karena ini tentang hidup atau mati” kutipan dari Alexandria Ocasio.
Jadi gimana? Sudah siap ambil bagian mencegah perubahan iklim bersama saya dan Royal Golden Eagle?
Apa Itu Perubahan Iklim?
Iklim adalah rata-rata cuaca, sedangkan keadaan atmosfer pada waktu tertentu disebut cuaca.
Pada dasarnya iklim didefinisikan sebagai ukuran rata-rata dan variabilitas kuantitas yang relevan dari variable tertentu, seperti: temperatur, curah hujan atau angin.
Sehingga jelas bahwa iklim dan cuaca itu berbeda. Contoh dari cuaca, seperti: hujan, angin, banjir, dan lainnya. Sedangkan iklim berhubungan dengan kondisi suhu, kelembaban udara atau pola hujan rata-rata.
Kondisi iklim akan terus berubah. Perubahannya tergantung dari faktor yang mempengaruhi, seperti: erupsi vulkanik, variasi sinar matahari, dan manusia.
Disisi lain, alih fungsi lahan dan penggunaan bahan bakar fosil juga mendorong perubahan iklim.
Lalu, perubahan iklim itu apasih?
1. Perubahan Iklim Menurut Pemerintah RI
Berdasarkan UU No. 31 Tahun 2009 tentang Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, perubahan iklim adalah berubahnya iklim yang diakibatkan, langsung atau tidak langsung, oleh aktivitas manusia yang menyebabkan perubahan komposisi atmosfer secara global serta perubahan variabilitas iklim alamiah yang teramati pada kurun waktu yang dapat dibandingkan.
2. Perubahan Iklim Menurut Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC)
IPPC mendefinisikan perubahan iklim sebagai perubahan keadaan iklim yang dapat diidentifikasi, misalnya menggunakan uji statistik dengan perubahan rata-rata dan/atau variabilitas sifat-sifatnya dan bertahan untuk waktu yang lama, biasanya beberapa dekade atau lebih.
Penyebab Perubahan Iklim
Perubahan iklim tidak terjadi dalam semalam. Melainkan akumulasi dari kegiatan yang dilakukan oleh alam atau manusia.
Namun jika disebabkan oleh alam, kita tak perlu khawatir. Karena memang begitu semesta bekerja. Oleh karena itu, mari berfokus terhadap penyebab perubahan iklim akibat ulah manusia.
1. Sektor Transportasi
Belakangan kualitas udara Jakarta menjadi sorotan akibat berada dalam level tak sehat. Kementrian Lingkungan Hidup menyatakan bahwa polusi udara Jakarta yang kian masif di sebabkan oleh sektor transportasi sebanyak 44%.
Namun jika dilihat secara global, sektor transportasi menyumbang 26% emisi CO2. Penggunaan model transportasi darat, dan udara menjadi kontributor utama emisi gas rumah kaca.
Efek Rumah Kaca (ERK) adalah kondisi dimana gas-gas rumah kaca yang tertahan dalam lapisan atmosfer. Sehingga berdampak pada paparan panas matahari yang tertahan dan tak bisa keluar dari atmosfer.
Jika kondisi ini dibiarkan begitu saja, maka kutub es akan mencari dan menyebabkan permukaan laut meninggi, perubahan iklim, serta punahnya satwa langka.
Masyarakat perkotaan memang susah untuk mengurangi mobilitas dengan kendaraan pribadi, walaupun kendaraan umum telah digalakan.
Dengan demikian, masyarakat perkotaan harus mengetahui bahwa mereka berkontribusi sebanyak 70% terhadap polusi dunia (data pada tahun 2011).
Data juga menunjukan bahwa kepemilikan kendaraan bermotor terus meningkat tiap tahunnya, coba perhatikan gambar berikut.
2. Sektor Energi
Energi dan manusia ibarat dua mata uang yang tak bisa dipisahkan. Hubungannya sangat mesra. Namun sayang, untuk memperoleh energi, manusia harus mengorbankan tempat tinggalnya.
Pada acara Parrtnership in Climate Action (14/11/22), Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif mengatakan bahwa sektor energi menyumbang 38-40% emisi karbon nasional. Itu setara dengan 450 juta CO2 per tahun dilepaskan ke atmosfer.
Kondisi ini bisa tercipta akibat sumber energi yang digunakan berasal dari bahan bakar fosil. Sehingga selama proses produksinya akan melepaskan gas-gas yang mengakibatkan ERK. Sementara penggunaan energi terbarukan lain masih minim digunakan.
3. Sektor Industri Manufaktur
Industri manufaktur terutama dalam kontruksi baja dan semen, menyumbang sepertiga emisi gas rumah kaca global.
Angka ini lebih tinggi dibanding sektor transportasi, dan sektor energi yang sering jadi pusat perhatian. Selain itu, pertambangan dan industri lainnya juga menimbulkan emisi. Mesin yang digunakan seringkali menggunakan batu bara, minyak, atau gas sebagai bahan bakar.
Plastik yang kita gunakan sehari-hari juga memiliki sumbangsih cukup besar.
Melansir dari laporan “Plastic & Climate: The Hidden Costs of a Plastic Planet,” yang dirilis oleh The Center International Environmental Law. Sebuah organisasi nirlaba mengatakan bahwa jumlah emisi yang dihasilkan dari proses produksi hingga pembuangan plastik terus meningkat.
Hingga mencapai 2.8 Juta Metric Ton CO2. Itu setara dengan emisi karbon yang dihasilkan oleh 500 buah Pembangkit Listrik Tenaga Batu Bara, di tahun 2050.
4. Penebangan Hutan (deforestasi)
Melansir dari situ PBB Indonesia, perubahan iklim bisa terjadi salah satunya disebabkan oleh penebangan hutan.
Umumnya penebangan dilakukan untuk membuka lahan barun. Namun nahas, setiap pohon yang ditebang akan melepaskan emisi yang tersimpan di dalamnya.
Salah satu Gas Rumah Kaca (GRK) Karbon Dioksida, merupakan unsur penting dalam proses fotosintesis yang dilakukan oleh tumbuhan. Sehingga, semakin sedikit tumbuhan yang tersedia, semakin minim juga usaha pengurangannya secara alami.
Setiap tahunnya Indonesia kehilangan 684.000 hektar hutan akibat pembalakan liar, kebakaran hutan, dan alih fungsi lahan.
Menurut data yang dirilis Badan Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) berdasarkan data dari Global Forest Resources Assessment (FRA), Indonesia menempati peringkat kedua dunia tertinggi kehilangan hutan setelah Brasil yang berada di urutan pertama.
Ageng Herianto, selaku deputi FAO Representatif bidang program di Indonesia mengatakan bahwa “Sejak tahun 2010 sampai 2015, Indonesia menempati urutan kedua tertinggi kehilangan luas hutannya yang mencapai 684.000 hektar tiap tahunnya,” dalam acara seminar dengan Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta Pemerintah Provinsi Sulsel, Selasa (30/8/2016).
Dampak Perubahan Iklim
Perubahan iklim memiliki dampak yang besar bagi kehidupan di darat dan laut. Kondisi ini jika terus dipelihara akan mengakibatkan tidak adanya kehidupan di bumi.
Agar kita lebih paham lagi terkait dampak perubahan iklim, silahkan simak penjelasan berikut.
1. Peningkatan suhu bumi
Konsentrasi GRK yang terjebak di atmosfer akan mengakibatkan meningkatnya suhu permukaan bumi.
Berdasarkan data dari NASA, suhu permukaan bumi di tahun 2021 mengalami kenaikan 0,860C dibandingkan dengan suhu rata-rata tahunan pada periode 1951-1980. NASA juga mengungkapkan bahwa dalam 10 tahun terakhir, suhu permukaan bumi meningkat sebesar 1,020C pada tahun 2016 dan 2020.
Pemanasan global yang terjadi juga berdampak pada masalah lingkungan, seperti: meningkatnya permukaan air laut, kebakaran hutan, dan berubahnya pola migrasi hewan.
Selain itu, Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), juga mengatakan bahwa pemanasan global beresiko meningkatkan kekeringan, perubahan pola hujan, dan meningkatkan intensitas cuaca ekstream.
Cuaca yang ekstream juga akan mengakibatkan punahnya beberapa spesies. Hal ini disebabkan karena ketidakmampuan dalam beradaptasi secara cepat akibat perubahan lingkungan.
Sektor pertanian juga akan terganggu akibat peningkatan suhu bumi ini. Potensi penggurunan semakin besar terjadi pada lahan-lahan produktif.
Sehingga suplai makanan bagi manusia juga akan terganggu. Meskipun tidak terganggu sekalipun, ada kemungkinan bahan pangan yang kita konsumsi memiliki kandungan racun yang berbahaya jika dikonsumsi secara terus menerus.
Menurut Global Panel on Agriculture and Food Systems for Nutrition (GLOPAN) menyatakan bahwa, terdapat bukti kuat bahwa perubahan iklim akan mempengaruhi kualitas pangan (keanekaragaman, kepadatan nutrisi, dan keamanan) dan harga pangan.
2. Meningkatkan Risiko Kesehatan
Meskipun perubahan iklim sebagian besar disebabkan oleh kegiatan manusia, bukan berarti manusia tidak terdampak.
Pasalnya, perubahan iklim juga bisa menyebabkan risiko kesehatan pada manusia. Melansir dari Ditjenppi.menlhk.go.id perubahan iklim akan menyebabkan kemarau panjang yang berakibat pada perkembangan bakteri, virus, jamur, dan parasit.
Mikroorganisme tersebut dapat berkembang cepat akibat dukungan dari kelembapan udara saat musim kemarau tinggi. Hal ini mengakibatkan banyak orang yang terjangkit penyakit yang berhubungan dengan bakteri dan udara, seperti penyakit kulit.
Gangguan pernafasan juga akan muncul akibat memburuknya kualitas udara yang disebabkan oleh perubahan iklim. Hal tersebut diakibatkan oleh peningkatan frekuensi smog event (ozon tingkat-dasar) dan polusi udara.
Ozon tingkat dasar dapat mengakibatkan kerusakan jaringan paru, dan sangat berbahaya bagi penderita asma.
Melansir dari bbc.com, Farah Nufirman warga asli Jakarta menceritakan bahwa dia harus membawa inhaler kemanapun ia pergi. Karena jika kadar oksigen dalam darahnya turun 2% saja akan berakibat pada rasa sakit luar biasa pada bagian dada dan sesak.
Agar kamu lebih mengerti lagi soal dampak perubahan iklim terhadap kesehatan, kamu bisa memperkaya diri dengan membaca jurnal ini.
Cara Mencegah Perubahan Iklim
Akhirnya kita memasuki bagian yang membutuhkan komitmen kuat. Karena pada dasarnya kita melawan budaya yang dipelihara dengan baik.
Oleh karena itu, bagian ini jika dilakukan pada awalnya akan membuat kita sedikit tersiksa. Namun mulai dari langkah kecil inilah kita dapat merubah sesuatu yang jauh lebih besar.
Kegiatan sehari-hari yang kita lakukan memiliki peranan dalam perubahan iklim, baik secara langsung atau tidak langsung. Oleh karena itu, saya akan mengenalkan tentang konsep Sustainable Living.
Apa itu Sustainable Living?
Sustainable Living merupakan gaya hidup ramah lingkungan. Tujuan dari sustainable living adalah memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan meminimalisir dampak buruk bagi linkungan serta menjaga ekosistem.
Sehingga, sustainable living bisa diartikan sebagai merancang perilaku dalam mengkonsumsi produk yang didasari pada aspek siklus produk yang digunakan, meliputi: asal material produk, pengolahan, dan ketahanan produk.
Sederhananya, kita bisa mengaplikasikan 5 aspek untuk menerapkan konsep hidup ini, yaitu: bijak menggunakan air, hemat energi, mengelola sampah, mengkonsumsi produk yang ramah lingkungan, serta mengurangi mobilisasi dengan kendaraan berbahan bakar fosil. Mari kita bahas kelima aspek tersebut.
1. Bijak Menggunakan Air
Air bersih yang bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari sangatlah sedikit. Data dari National Geographic menyatakan bahwa sekitar 97% ketersediaan air di bumi adalah air asin. Itu artinya, air tawar yang akrab kita konsumsi hanya 3%.
Dari total 3% air tawar, 2% mengendap sebagai gletser dan membeku di bawah laut. Kondisi ini makin diperparah dengan adanya pencemaran dan perubahan iklim. Sumber air tawar yang umum ditemukan terdapat di danau, sungai, dan aliran air yang tidak mengandung banyak garam.
Sedangkan mahluk hidup di bumi memerlukan air agar dapat bertahan hidup. Oleh sebab itu, terdapat 4 alasan kenapa mulai dari sekarang kita harus bijak menggunakan air, yaitu: menjaga cadangan air agar tidak menipis, menjaga keseimbangan jumlah air, menjaga keseimbangan ekosistem air, dan menghemat biaya pengeluaran air.
Untuk menghemat penggunaan air, kita bisa melakukan Langkah-langkah berikut:
- Selalu menutup keran air dengan benar.
- Memperbaiki kebocoran saluran air.
- Menggunakan shower ketimbang gayung saat mandi.
- Memanfaatkan inovasi tisu basah dan cairan desinfektan.
- Mencuci piring atau baju dalam skala besar.
- Memanfaatkan air limbah.
2. Hemat Energi
Sektor energi menjadi salah satu sektor yang paling berkontribusi dalam perubahan iklim. Penggunaan energi dalam kehidupan sehari-hari berakibat pada meningkatnya permintaan pasokan energi. Apalagi saat ini sebagian besar energi dihasilkan dari bahan bakar fosil.
Sementara penggunaan bahan bakar fosil merupakan jenis energi yang tak dapat diperbaharui. Artinya, sumber daya alam tersebut jumlahnya terbatas, sehingga jika digunakan terus menerus akan habis.
Proses produksi energi akan melepaskan emisi Gas Rumah Kaca (GRK) yang memicu Efek Rumah Kaca (ERK). Menurut laporan Global Carbon Project (GCP), dunia diprediksi mengeluarkan 36,4 gigaton karbon dioksida pada tahun 2021.
Sedangkan menurut United States Environmental Protection Agency (EPA), suhu bumi yang naik menyebabkan gelombang panas bertahan lebih lama dan berdampak pada penyakit stroke panas, kram, bahkan kematian.
Oleh sebab itu, kita bisa menghemat penggunaan energi guna mencegah perubahan iklim.
Menurut Kementrian ESDM, beberapa cara berikut mampu menghemat energi.
- Mematikan lampu saat keluar ruangan.
- Mematikan televisi saat tidak digunakan.
- Mencetak kertas secara bolak-balik.
- Mematikan perangkat elektronik saat tidak digunakan.
- Menutup kulkas dengan rapat.
- Mematikan AC ketika tidak digunakan.
- Mengatur suhu AC 24 derajat.
- Menggunakan lampu hemat listrik/LED.
3. Mengelola Sampah
2 milyar ton per tahun adalah jumlah dari sampah yang dihasilkan dunia saat ini. Sebagian besar tidak didaur ulang yang berdampak pada kerusakan lingkungan.
Apalagi timbunan sampah akan menyebabkan emisi karbon yang besar. Menurut World Health Organization (WHO), pada tahun 2050 diprediksi sampah dunia mencapai 3,4 milyar ton.
Dengan jumlah sebanyak itu akan menghasilkan gas rumah kaca yang berbahaya dan sangat berkontribusi terhadap perubahan lingkungan.
Menurut Bank Dunia, daur ulang sampah kering seperti plastik, kerta, logam dan kaca setara dengan 38% sampah kota. Sedangkan hanya 13,5% saja yang benar-benar didaur ulang secara global.
Indonesia saja diperkirakan menghasilkan 85 ribu ton sampah setiap hari. Jumlah ini diprediksi akan meningkat pada tahun 2025 menjadi 150 ribu ton per hari.
Mengutip dari DLH Banjarmasin, sebuah kantor pemerintah dalam satu tahun dapat menghabiskan sekitar 500 rim kertas untuk mencetak dokumen, mencatat memo, dan membungkus surat.
Berdasarkan data dari Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), volume timbulan sampah di Indonesia pada tahun 2022 sebanyak 19,45 juta ton.
Kalau Bukan Kita, Siapa Lagi? Kalau Gak Sekarang, Kapan Lagi?
Suka atau tidak, kita harus mulai sadar dan peduli terhadap lingkungan. Apabila kita masih sembrono dan enggan menjaga lingkungan, maka kehancuran sudah ada di depan mata.
Ini bukan hanya tentang hari ini, namun menyangkut masa depan. Kamu pasti setuju untuk menjaga bumi bagi generasi anak-cucu kita mendatang. Semua impian itu hanyalah omong kosong belaka, jika tidak diwujudkan sedari sekarang.
Ayo mulai bergerak dari lingkungan yang paling kecil, yaitu lingkungan keluarga. Terapkan konsep hidup sustainable living, maka keluargamu sudah membantu bumi untuk bernafas lebih panjang!
Udah dulu ceritanya yaa … Masih banyak cerita lainnya dari Insanus Mlaku yang gak kalah seru dan menarik. Yuk eksplore bareng.
See you!