The Journey Start Here!

Deg-degan! Pendakian Gunung Sumbing via Kaliangkrik

Sedari awal pendakian gunung Sumbing via Butuh Kaliangkrik dimulai, saya punya firasat yang kurang enak.

Pendakian menuju gunung Sumbing merupakan babak baru untuk saya. Karena sebelumnya, saya hanya berkutat pada gunung Slamet. Sudah hampir 4 – 5 kali saya mendaki ke gunung Slamet, baru akhirnya berpindah ke gunung lain.

Pendakian kali ini beranggotakan 7 orang, awalnya hanya saya dan Rico saja. Namun karena faktor budget yang terbatas, dan berujung ajak teman-teman lain. Terkumpullan 5 orang yang kurang beruntung itu.

Dan inilah cerita tentang pendakian ke gunung Sumbing di tahun 2018.

Memiliki Tim yang Solid itu Penting!

Saya dan Rico telah melakukan pendakian bersama kurang lebih 3 kali ke gunung Slamet. Coba tebak, untuk apa kami melakukan pendakian itu?

Jawabannya adalah menghantarkan teman menapakkan kaki di puncak gunung tertinggi di Jawa Tengah. Bermacam situasi telah kami lalui bersama sepanjang pendakian. Berbagai wajah asli sahabat pendakian pun sudah kita lihat bersama.

Bisa dibilang, saya dan Rico adalah tim pusing dalam setiap pendakian. Saya menyusun rencana, Rico menemani dan memberi support sebungkus rokok (pada tahun 2018-an saya masih aktif merokok, namun sekarang di tahun 2026 sudah tidak).

Rencana pendakian sudah jadi, tim juga sudah ada, tinggal berangkat. Kalau kamu berfikir kami egois, karena tidak mau mengajak teman-teman lain. Mungkin, kamu perlu dengar penjelasan kami.

Sudah 3 kali pendakian kami bersama, menghantarkan sahabat ke puncak tertinggi Jawa Tengah. Waktu pendakian pun selalu berubah, kadang cepat, kadang juga lambat.

Nah, kini saatnya menguji diri kami sendiri. Seberapa kuat fisik yang kami miliki, seberapa siap mental yang kami punya, dan apakah kami sudah layak menjadi sandaran teman-teman yang baru mau belajar mendaki.

Kiranya, itulah alasan kami ingin mendaki berdua saja. Jujur, cuman itu.

Baca Juga: Pendaki Wajib Tahu! 10 Mitos Gunung Sumbing Ini Bikin Merinding

Perubahan Rencana

Ada sebuah kutipan yang kerap kali terlintas dalam beranda sosial media.

Kita sebagai hamba Tuhan, hanya bisa merencanakan. Sisanya serahkan pada Tuhan” dan “Rencana hanyalah sebatas rencana, semua itu bisa berubah sewaktu-waktu. Tergantung situasi dan kondisi yang terjadi

Ternyata benar adanya, kami harus merubah rencana awal. Yang tadinya pendakian ini ekslusif, suka tidak suka harus terbuka untuk umum. Singkatnya, kami ketambahan 5 orang lagi.

Begini ceritanya…

Semua ini bermula pada kondisi keuangan kami berdua. Sebagai seorang pelajar Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) kami tak punya uang yang berkecukupan, walaupun sudah menabung dengan susah payah. Hasilnya tetap kurang.

Kendala utama kami adalah logistik pendakian. Uang yang kami miliki hanya cukup untuk transport, bayar simaksi + urus administrasi, dan mie instan saja.

Coba bayangkan, pendakian ke gunung Sumbing cukup berat, gak mungkin kami hanya berbekal mie instan saja. Selain bosan dengan makanan yang monoton, gizinya pun tidak cukup.

Sebelum memilih untuk open recruitment anggota pendakian, kami sudah berusaha untuk memangkas budget logistik dengan sedikit mencuri persediaan dapur Ibu. Namun, masalah kami belum juga terselesaikan.

Maka dari itu, terbesitlah ide untuk mengajak teman lainnya mendaki bersama, khususnya perempuan.

Kenapa perempuan?

Simpelnya, kami menganggap perempuan memiliki manajemen uang yang cukup baik, sehingga kami bisa bergantung kepada mereka untuk memperbaiki kondisi logistik, sebagai gantinya kami jadi tim repot lagi. Ala-ala penyedia jasa open trip, lah.

Jika begitu, cukup adil bukan?

Singkatnya, bergabunglah 5 orang lagi dalam rencana pendakian kali ini. Mereka adalah Erin, Lutfi, Dian, Aan, dan Rifqi.

Bergabungnya mereka kedalam pendakian kali ini, membuat kami sedikit tenang mengenai logistik.

Baca Juga: Hitung kebutuhan Makan Pendakian dengan Kalkulator Logistik & Kalori Gunung

Perjalanan Menuju Basecamp Gunung Sumbing

Ketika semuanya telah selesai kami siapkan, segala kebutuhan sudah terceklist dengan rapi. Kini, saatnya kami menuju basecamp pendakian Sumbing via Butuh Kaliangkrik yang terletak di Desa Butuh Kec. Kaliangkrik, Kab. Magelang, Jawa Tengah.

Waktu tempuh berdasarkan Google Maps sekitar 4 jam’an. Namun, berdasarkan pengalaman seorang sahabat, mereka berhasil menempuhnya dengan waktu 3,5 jam aja.

Tapi, percaya atau tidak, kamu membutuhkan waktu sekitar 6,5 jam untuk bisa sampai ke basecamp butuh kaliangkrik ini. Jujur, perjalanan ini sangat melelahkan. Bisa dikatakan kalau energi kami sudah habis dijalan duluan.

Masa iya kalah dulu sebelum perang, lucu banget kan.

Kami berangkat dari Rumah Lutfi yang berada di Desa Walik, Purbalingga sekitar jam 10 malam dan kami sampai di basecamp sekitar jam 03.30 pagi.

Setelahnya, saya sadar, masalah utama kenapa kami begitu lama di jalan adalah karena si Rifqi yang membawa motor kopling dan bertangki terlalu pelan. Sementara kami yang mengendarai motor bebek dan matic, berada di belakangnya.

Dengan begitu, kecepatan kami ditentukan oleh Rifqi, tapi si Rifqi bawa motornya pelan bangett… Jadi lama kan sampai di basecampnya. ARGGHH..

Perjalanan Menggapai Puncak Sejati, Dimulai!

puncak gunung sumbing
Laki-laki dari Kiri: Aan, Rifqi, Rico, dan Saya. Perempuan dari Kiri: Lutfi, Dian, dan Erin

Sebelum kami semua memejamkan mata dan mengistirahatkan badan yang telah lelah menempuh perjalanan 6,5 jam lamanya. Kami bersepakat untuk memulai pendakian di jam 10 pagi, dan untuk pertama kalinya kami menepati kesepakatan tersebut.

Perjalanan dari basecamp menuju pintu rimba berkisar 15 – 20 menit, di pintu rimba ini kami melakukan ritual pendaki pada umumnya, selfie dulu dong Konco Mlaku.

Setelah puas melakukan sesi foto-foto, kami-pun melanjutkan perjalanan. Belum lama kami berjalan, Erin meminta berhenti sejenak, bukan karena ia sudah kelelahan atau apa.

Tapi karena ada barang yang ketinggalan di basecamp. Seperti itu awalnya. Ia turun ditemani Dian, dan sisanya menunggu ditempat pemberhentian pertama kami.

10 menit terlewati, 20 menit terlewati, 30 menit sudah berlalu semenjak Erin dan Dian kembali turun ke basecamp untuk mengambil barang yang tertinggal, namun tak kunjung kembali.

Saya mulai bertanya-tanya, apakah ada kendala semasa mereka turun?

Ketika saya bertanya kepada Lutfi, akhirnya ia mengatakan bahwa mereka turun karena Erin ingin membeli pembalut. Erin khawatir ketika mendaki nanti dirinya menstruasi.

Mendengar penjelasan Lutfi, saya bak tersambar petir disiang bolong. Perasaan was-was seketika menghampiri, pikiran untuk menyudahi pendakian pun muncul.

Pilih Mundur atau Meneguhkan Hati untuk Melangkah?

Mau percaya atau tidak, saya sangat terganggu untuk melanjutkan pendakian ini. Karena banyak cerita pendakian yang “kesusahan” ketika ada anggota kelompoknya yang sedang haid.

Selain itu, saya juga sempat diceritakan beberapa mitos gunung Sumbing oleh seorang teman. Sehingga saya semakin ragu untuk melanjutkan pendakian, dan cenderung ingin menyudahi saja pendakian ini.

Tapi egois rasanya, jika saya mengambil keputusan sepihak. Saat ini, kami hanya bisa menunggu informasi dari Erin.

Kurang lebih kami menunggu sekitar 40 menit. Berharap cemas, serta pikiran yang masih saja berisik. Entah mengapa, saya selalu membayangkan kemungkin apa yang akan terjadi di masa yang akan datang.

moment of truth pun datang. Dengan santai Erin berkata “Hehe, gak jadi dapet kok bang 🙂”.

Informasi tersebut seolah melegakan, namun melihat cara Erin menyampaikan. Saya merasa ada yang ditutup-tutupi.

Akhirnya, kami berdiskusi untuk melanjutkan atau menghentikan pendakian ke Gunung Sumbing kali ini. Keputusan kami waktu itu adalah tetap melanjutkan pendakian, dan berharap tidak ada hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. Aamin.

Perjalanan kami lanjutan dengan bersabar, menapaki tanjakan-tanjakan PHP (begitu istilah yang diberikan di jalur ini) dibarengi dengan gelak tawa.

Semua terasa normal saja, pemandangan yang tersuguhkan-pun masih perkebunan milik warga. Belum memasuki hutan.

Sampai di Pos 1

Setelah kami sampai di pos 1, dan sedikit mengintip jalan yang akan kita lalu selanjutnya. Ternyata cukup berhasil menyerang mental. Tanjakannya begitu curam, dan cukup panjang. Ditambah lagi tanjakan itu merupakan akses kami untuk masuk ke dalam hutan.

Selama pendakian saya ada di posisi paling belakang, sempat di beberapa saat saya merasakan ada yang mengintai kami di kanan dan kiri jauh di dalam hutan sana.

Acapkali juga saya merasakan ada yang menemani saya di belakang, tapi ketika saya menoleh kebelakang tidak ada siapapun.

Mendekati waktu ashar, saya melihat beberapa teman-teman sudah kelelahan dan sangat beresiko untuk memaksakan melanjutkan perjalanan, terutama Lutfi.

Sedari awal Lutfi memang menjadi perhatian kami, bisa dibilang dia memiliki kondisi fisik yang paling lemah diantara kami ber-7.

Maka untuk mempersingkat waktu, saya meminta tolong kepada Rico dan Aan untuk berjalan lebih cepat dan segera mendirikan tenda di pos 2.

Kondisi fisik yang sudah kelelahan sangat tidak mungkin untuk dipaksakan, dan mungkin akan beresiko fatal. Jadi kami memutuskan untuk ngecamp di pos 2.

Camping di Pos 2 Pendakian Gunung Sumbing

Ketika kami semua sampai di pos 2, selisih waktu kami dengan Rico – Aan tidak terlalu jauh. Sehingga tenda yang diharapkan sudah berdiri untuk beristirahat teman-teman yang sudah kehabisan tenaga belum siap.

Secepatnya saya berusaha membantu proses pendirian tenda tersebut. Tenda yang kami gunakan berkapasitas 6 orang cukup lah untuk menampung kami semua.

Sialnya, di pos 2 ini kurang ada lahan yang cukup luas untuk mendirikan tenda sebagaimana mestinya.

Alhasil kami mendirikan tenda di dalam shelter, jika kamu melihat tenda biru berdiri di dalam shelter, itu tenda kami. Kami tau perbuatan kami salah, tapi kami tidak punya pilihan. Mohon untuk dimaafkan.

Ketika tenda berdiri, semuanya bergegas masuk untuk segera mengistirahatkan badang yang sedari pagi sudah berjalan.

Sedangkan saya, masih berjalan-jalan mengitari tenda. Mengobrol dengan pendaki yang baru turun perihal cuaca, atau apapun yang berguna bagi kami untuk melanjutkan pendakian dini hari nanti.

Sehabis isya, pendaki yang awalnya (harapan) menjadi tetangga kami dalam menginap malam ini, ternyata memutuskan untuk turun menuju basecamp.

Alhasil hanya ada tenda kami saja di pos 2 itu. Selepas pulangnya tetangga kami, pos 2 menjadi sangat sepi dan mencekam. Letaknya yang cukup strategis juga menambah rasa ketakutan saya.

Pos 2 ini berletakan di pucuk vegetasi hutan dengan lembah bukit yang harus dilewati untuk bisa sampai ke puncak. Sehingga menambah pikiran buruk saya saja.

Andaikan kata, dari arah puncak datang segerombolan mahluk begitu juga dari arah basecamp. Sudah habis kami terkepung oleh ribuan mahluk yang menyerbu.

Merasa Ada yang Janggal Ketika Berada di Pos 2

Ketika saya sedang melamun memandangi jalur yang sudah kami lalui siang tadi sembari menghisap rokok.

Saya melihat cahaya senter dari bawah, perasaan senang saya rasakan. Akhirnya ada teman ngobrol juga, maklum lah semua teman saya sudah berada dalam alam mimpi.

Sedangkan saya masih berusaha terlelap.

Saya berusaha menereriaki sumber cahaya tersebut, berharap mendapatkan balasan. Beberapa kali saya berteriak, kumpulan cahaya itu juga tidak membalasnya.

Malah asyik berjalan menembus malam. Oke, saya coba cara lain. Kali ini saya memberikan sinyal melalui kedipan senter ditangan saya, dengan harapan akan dibalas sinyal saya itu.

Akan tetapi hasilnya tetap nihil.

Pikiran negatif mulai menyerang saya, seketika saya berjalan dengan santai namun cepat menuju tenda. Membuka resleting tenda, mengambil posisi tidur, dan bersembunyi dibalik hangatnya sleeping bag.

Setelahnya saya berusaha tidur secepat mungkin. Tapi tetap saja tidak bisa, semakin dipaksa semakin saya tidak merasakan kantuk sama sekali.

Hingga pada akhirnya saya mendengar langkah kaki yang cukup banyak, mungkin satu regu pendakian. Oh mungkin ini orang-orang yang sedari tadi saya hubungi melalui teriakan dan sinyal senter.

Perasaan tenang-pun saya rasakan. Ketika saya ingin beranjak dari dekapan hangat sleeping bag, saya merasa ada yang janggal.

Apakah kalian tahu? Langkah kaki itu tak ada hentinya selama sekitar 3 menit lamanya, dan hal yang paling aneh adalah tak terdengar suara obrolan ataupun ngos-ngosan.

Dengan lokasi tenda kami yang berdeketan dengan jalur pendakian, seharusnya nafas yang ngos-ngosan bisa terdengar.

Setelah itu saya makin ketakutan dan bersembunyi dibalik sleeping bag. Menutup erat wajah, sambil berdo’a dan berusaha tetap tenang.

Penjelasan Tentang Apa yang Terjadi

berada di puncak sumbing

Singkat cerita, kami semua berhasil sampai puncak. Walaupun dengan bersusah payah. Saya yang sedari malam memendam cerita “Agak laen” sudah tak sabar lagi untuk menceritakannya. Namun saya harus menunda keinginan tersebut sampai kami sampai di Basecamp lagi.

Jangan sampai membuat mental teman pendakian drop juga. Karena kita tidak tahu seberapa kuat mental mereka. Sesampainya di basecamp, saya pun menceritakan kejadian semalam kepada teman-teman.

Mereka mendengarkan dengan seksama. Ada yang berusaha rasional. Ada yang mulai ketakutan. Serta ada juga yang tidak percaya. Namun saya tetap menceritakannya. Karena cerita ini adalah bagian dari perjalanan yang membuat perjalanan ini semakin berkesan.

Jujur, saya masih tidak tau apa yang saya alami waktu itu. Dulu saya sempat percaya bahwa itu adalah “Ulah” mahluk setempat. Namun seiring dengan berjalannya waktu, saya menganggap kejadian adalah buah dari halusinasi dan ketakutan saya ketika mendengar Erin akan menstruasi.

Saya berpikir terlalu jauh, sehingga termanifestasi di malam hari. Mungkin juga efek karena kelelahan. Entahlah. Tapi yang jelas, kejadian-kejadian semacam ini tidak menghambat saya untuk tetap mendaki gunung. Malahan saya sedang tertarik untuk mencoba solo hiking.

Untuk bisa solo hiking, tentu butuh persiapan yang matang. Mulai dari pengetahuan, hingga peralatan. Doakan ya, konco mlaku. Keinginan tersebut bisa terwujud. Nanti saya share pengalamannya. Entah lewat tulisan di Blog ini atau channel YouTube saya.

Udah dulu ceritanya yaa … Masih banyak cerita lainnya dari Insanus Mlaku yang gak kalah seru dan menarik. Yuk eksplore bareng.

See you!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *