The Journey Start Here!

Kisah Pak Deden, Dari Penyadap Getah Pinus Jadi Petani Kopi

Kisah inspiratif pak Deden, petani kopi di kelompok tani hutan Giri Senang.

Ternyata, kuliah pertanian cukup mengasyikan. Apalagi saat magang mandiri tiba, saya bisa bebas pilih mau magang dimana. Kala itu, saya sudah paham betul kalau tidak semua tanaman saya kuasai.

Daripada mubah (sia-sia, dalam bahasa Jawa) kuliahnya gak bisa apa-apa, saya menetapkan pilihan untuk fokus pada tanaman Kopi. Keputusan itu membawa saya pada Kelompok Tani Hutan Giri Senang di Bandung.

Kunjungan ke Kelompok Tani Hutan Giri Senang

papan nama kelompok tani kopi giri senang

Saya tahu kelompok tani ini ketika bersusah payah curhat ke teman sana-sini. Intinya adalah menanyakan apakah ada kenalan yang punya kebun kopi, atau bekerja di kebun kopi.

Karena memang sedari awal, incaran saya adalah mempelajari tanaman kopi dari hulu hingga ke hilir. Ayah seorang teman di IMM (Organsisasi saya sewaktu kuliah) yang memang berprofesi sebagai petani kopi memberikan saran untuk belajar di Kelompok Tani ini.

Ketika saya dikenalkan kepada ketua kelompok tani, ia sangat menyayangkan waktu yang kurang tepat, karena sudah selesai masa panen. Seingat saya, kurang tepatnya waktu ini sempat saya tulis dalam laporan magang dulu. Namun sial, berkasnya hilang, jadi tidak bisa saya bagikan denganmu.

Baca Juga: 5 Tips Minum Kopi Agar Asam Lambung Tidak Naik

Meskipun begitu, saya masih bisa belajar disini. Proses belajar saya tanpa kurikulum yang pasti, hanya mengikuti kegiatan yang ada. Oleh karena itu, saya harus lebih pro aktif.

Kalau saya pasif, tentu tidak mendapatkan apapun.

Cerita Pertemuan dengan Pak Deden

kebun kopi di lahan perhutani

Agustus 2021 adalah waktu kejadian cerita ini, pada bulan itu pula saya bertemu dengan seorang petani yang ramah, dan tidak pelit ilmu. Masih ingat, kalau saya harus lebih pro aktif agar dapat ilmu lebih?

Karena dorongan itulah, saya ijin untuk pergi ke kebun kopi kepada mas Yadin selaku pembina dari kelompok Tani. Ia membolehkan, tapi tidak bisa menemani. Karena sedang meroasting biji kopi, dan menyiapkan pesanan.

Saya pikir, “Tak apalah kalau harus sendirian. Toh niatnya baik mau belajar langsung ke kebunnya, harusnya sih aman. Syukur-syukur bisa bertemu dengan petani disana. Jadi bisa ngobrol-ngobrol langsung”.

Selain itu, saya juga sempat belajar dari buku Bicara itu Ada Seninya, bahwa rumus terjadinya komunikasi adalah pertanyaan, pujian, dan reaksi. Jadi saya yakin bisa berkomunikasi dengan baik. Pada waktu kuliah dulu, saya merasa ekstrovert tingkat lanjut, jadi gak masalah ketemu orang random dimanapun.

Bermodalkan rokok sebungkus, saya pergi ke kebun kopi sendirian. Dalam perjalanan, saya bertemu dengan dua petani yang akan membersihkan lahan. Saya mengikutinya, sambil memancing komunikasi. Tapi kelihatannya sedang tidak bisa diganggu.

Baca Juga: Cascara Adalah: Pengertian, Cara Membuat, dan Manfaatnya

Jadi saya tak mengobrol banyak, dan pergi lebih dalam menyusuri kebun kopi. Pada momen itu, saya mendengar suara pohon yang tengah dipukul dengan kapak.

Tanpa ada keraguan, saya mendekati sumber suara sambil berharap cemas. Semoga saja memang suara orang, bukan halusinasi. Setelah sampai di sumber suara, saya melihat pria berpakaian putih yang sedang memotong kayu, agaknya untuk kayu bakar.

Saya menunggu moment yang tepat untuk menyapa, dan bisa mengobrol. Agar lebih rileks, saya menawarkan rokok kepada pria tersebut. Tawaran saya diterima, dan akhirnya kami mengobrol di tengah-tengah hutan.

Sebelum obrolan semakin intens, saya mengajak kenalan. Dan nama pria tersebut bernama Deden.

Nasib Pak Deden Sebelum Menjadi Petani Kopi

Foto bersama pak Deden di kebun kopi Bandung

Dulu, sebelum kelompok Tani Hutan Giri Senang Terbentuk. Pak Deden merupakan penyadap getah pohon pinus.

Kondisi beliau sebelum bertani kopi bisa dibilang sangat sederhana, bertempat tinggal dibangunan non permanen. Ekonomi beliau sedikit membaik ketika sudah mulai bertani kopi.

Kegiatan bertani kopi dimulai pada tahun 2001-2002, pada fase awal ini dilakukan pembersihan lahan yang cukup lebat. Saking lebatnya vegetasi lahan saat itu, banyak anggota kelompok tani yang melihat babi hutan sedang mencari makan.

Rimbunnya semak-semak harus dibersihkan, agar ruang kosong di antara pohon pinus bisa digunakan untuk menanam kopi. Pada tahun 2005 usaha yang dilakukan oleh kelompok tani ini mulai membuahkan hasil, dan perlahan kehidupan perekonomian mulai terangkat di desa ini.

Karena tanaman kopi termasuk kedalam tanaman tahunan. Maka, membutuhkan waktu kurang lebih 2 tahun agar bisa dipanen buahnya.

Dari Penyadap Getah Pohon Pinus Menjadi Petani Kopi

Ilustrasi petani kopi

Pak deden juga menjelaskan, bahwa masyarakat Giri Mekar mayoritas adalah petani kopi, hanya 4 orang yang tidak memiliki lahan.

Kalau kamu berkunjung ke Desa Giri Mekar, Kecamatan Cilengkrang, Bandung. Mata kamu akan dimanjakan dengan tanaman kopi yang berdiri kokoh di kanan dan kirinya.

Satu hal yang sangat disayangkan oleh pak deden, bahwa masih ada beberapa warga yang malah memperjualbelikan garapan lahannya kepada orang lain demi rupiah yang instan.

Mungkin hal ini sudah marak ditemui di Indonesia, jika kepepet dan sangat membutuhkan dana maka menjual tanah adalah solusi paling nyata.

Baca Juga: [Review Jujur] Begini Rasanya Ngopi di Kopiluvium Pamulang

Pak Deden dan masyarakat giri mekar menjadi salah satu bukti bahwa salah satu manfaat tanaman kopi adalah mampu mengangkat perekonomian mereka yang awalnya sangat sederhana menjadi berkecukupan.

Hasil kopi dari pertanian kelompok tani ini juga memiliki kualitas yang baik.

Setiap proses yang dilakukan sangat diperhatikan dengan seksama demi terciptanya kopi dengan kualitas terbaik dibarengi citarasa yang tidak mengecewakan.

Manfaat Kopi untuk Kesehatan

Selain memiliki nilai jual yang tinggi, tanaman kopi juga memiliki manfaat bagi kesehatan. Kalau katanya Profesor Nutrisi & Epidemiologi Frank Hu, mengkonsumsi kopi mampu menjauhkan kamu dari diabetes stadium 2 & penyakit kardiovaskular.

Selain itu, Harvard University juga pernah bikin penelitian ke tanaman kopi ini, kurang lebih ada 7 point kesimpulan penelitian tersebut:

  1. Kopi akan mengontrol tekanan darah dalam penelitian di Harvard (2005).
  2. Minum kopi dengan cara rutin bisa menurunkan efek kematian akibat kanker prostat menurut penelitian di Harvard (2011).
  3. Minum empat hingga lima cangkir kopi per harinya bagi perempuan bakal menurunkan tingkat depresi menurut penelitian di Harvard (2011).
  4. Mengkonsumsi kopi mampu menurunkan risiko bunuh diri sampai 20% menurut penelitian di Harvard (2013).
  5. Kopi bakal menghindari penyakit kardiovaskular dgn mengkonsumsi 3-5 cangkir per harinya menurut penelitian di Harvard (2013).
  6. Mengonsumsi kopi lebih dari secangkir per harinya selagi empat tahun mengurangi risiko diabetes kategori 2 sejumlah 11 % ( 2014).
  7. Penelitian yang sama menunjukkan bahwa mereka yang mengurangi konsumsi kopi kurang dari secangkir per harinya meningkatkan risiko diabetes kategori 2 sejumlah 17%.

Yuk Mulai Rutin Konsumsi Kopi dan Rasakan Manfaatnya!

mengamati tanaman kopi

Jadi kamu jangan takut lagi untuk mengkonsumsi secara rutin, karena memang memiliki segudang manfaat yang telah terbukti penelitiannya.

Tapi ingat ya! Hanya kopi seduh (Manual brew) yang memberikan efek positif jangka panjang. Pasalnya, kopi-kopi sachetan terbuat dari kopi kualitas rendah dengan banyak campuran. Belum lagi tambahan gula, rasanya memang nikmat di lidah. Namun kurang baik untuk tubuhmu.

Untuk menghasilkan kopi yang nikmat, kamu bisa belajar menyeduh melalui buku karya Teguh Priambodo yang berjudul “Home Brewing Coffee: Cara Mudah Membuat Sajian Kopi di Rumah

Namun jika kamu lebih menikmati ngopi di kafe atau kedai, itu artinya banyak perut yang bisa kamu tolong. Barangkali setiap kopi yang kamu beli dengan harga yang variatif mampu meningkatkan kehidupan seseorang.

Udah dulu ceritanya yaa … Masih banyak cerita lainnya dari Insanus Mlaku yang gak kalah seru dan menarik. Yuk eksplore bareng.
See you!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *