Ketahui mitos gunung Rinjani berikut ini sebelum memulai pendakian.
Gunung Rinjani terkenal sebagai gunung tertinggi kedua di Indonesia sekaligus ikon wisata Pulau Lombok. Dibalik keindahanya, tersimpan nilai budaya dan spiritual yang sangat kuat. Bagi masyarakat Sasak, kawasan gunung ini dianggap sebagai tempat yang sakral.
Oleh karena itu, berbagai tradisi, ritual, hingga kearifan lokal masih terus dijaga hingga sekarang. Tak heran jika pendakian Gunung Rinjani tidak sekadar menawarkan keindahan kawah, Danau Segara Anak, dan view dari puncak. Namun juga mengajarkan pentingnya menghormati alam serta budaya setempat.
Seiring berkembangnya cerita dari para pendaki dan masyarakat sekitar, muncul berbagai mitos dan pantangan yang dipercaya mampu menjaga keseimbangan kawasan gunung. Terlepas dari benar atau tidaknya cerita tersebut, memahami nilai-nilai yang hidup di tengah budaya Sasak menjadi bentuk penghormatan kepada masyarakat lokal sekaligus mengingatkan setiap pendaki agar selalu menjaga etika.
Kenapa Gunung Rinjani Dianggap Sakral?
Bagi masyarakat Sasak, Gunung Rinjani merupakan kawasan yang memiliki nilai spiritual dan budaya yang sangat tinggi. Masyarakat Sasak memandang Rinjani sebagai tempat yang harus dihormati karena berkaitan dengan keseimbangan alam dan kehidupan.
Salah satu lokasi yang dianggap sakral adalah Danau Segara Anak. Area danau sejak lama menjadi tempat pelaksanaan berbagai ritual adat dan doa sebagai ungkapan rasa syukur maupun permohonan keselamatan.
Sosok Dewi Anjani dipercaya sebagai penguasa spiritual Gunung Rinjani dan menjadi bagian penting dari legenda yang diwariskan turun-temurun. Perlu dipahami bahwa kepercayaan tersebut merupakan bagian dari budaya lokal yang hidup di tengah masyarakat.
Oleh karena itu, siapa pun yang berkunjung atau mendaki sebaiknya menghormati adat istiadat serta nilai-nilai budaya yang dijaga oleh masyarakat setempat.
Daftar Mitos di Gunung Rinjani
1. Sosok Dewi Anjani
Salah satu mitos Gunung Rinjani yang paling dikenal adalah kisah tentang Dewi Anjani. Sosok ini dipercaya dalam cerita rakyat masyarakat Sasak sebagai penguasa Gunung Rinjani sekaligus ratu kerajaan jin.
Menurut legenda yang berkembang, Dewi Anjani merupakan seorang putri raja yang kemudian berpindah ke alam gaib dan menetap di kawasan Rinjani. Bahkan, sebagian masyarakat meyakini nama “Rinjani” berasal dari nama sang dewi.
Ada pula kepercayaan yang menyebut bahwa bentuk Gunung Rinjani merupakan manifestasi atau penyamaran fisik Dewi Anjani, sementara puncaknya diyakini sebagai lokasi istana gaib yang tidak dapat dilihat oleh manusia biasa.
Meski tidak memiliki dasar ilmiah dan termasuk bagian dari tradisi lisan masyarakat setempat, kisah ini menjadi salah satu warisan budaya yang memperkaya sejarah dan nilai spiritual Gunung Rinjani.
2. Misteri Danau Segara Anak dan Puncak Gunung Barujari
Danau Segara Anak menjadi salah satu lokasi yang paling lekat dengan cerita mistis di Gunung Rinjani. Dalam kepercayaan sebagian masyarakat Sasak, kawasan danau kawah ini memiliki dimensi spiritual yang kuat dan dihormati sebagai tempat sakral.
Salah satu mitos yang cukup dikenal menyebutkan bahwa luas Danau Segara Anak dapat terlihat berbeda-beda bagi setiap orang. Jika danau tampak sangat luas, hal itu dipercaya sebagai pertanda umur panjang. Sedangkan jika terlihat sempit, sebagian orang mengaitkannya dengan pertanda yang kurang baik.
Tak jauh dari danau, Puncak Gunung Barujari juga dipercaya sebagai tempat tersimpannya pusaka-pusaka keramat di alam gaib sekaligus menjadi bagian dari legenda spiritual Gunung Rinjani. Terlepas dari benar atau tidaknya kepercayaan tersebut, kamu sebaiknya menghormati adat istiadat dan budaya masyarakat setempat, ya!
Baca Juga: Misteri Tenda Organisasi Semapala di Pos 2 Slamet
3. Keberadaan Suku Bunian
Dalam kepercayaan sebagian masyarakat dan cerita yang beredar di kalangan pendaki, kawasan hutan serta lereng Gunung Rinjani dipercaya dihuni oleh makhluk hidup kasat mata, dan peradaban gaib yang hidup berdampingan dengan manusia.
Tak sedikit pendaki mengaku pernah mendengar suara keramaian layaknya pasar, percakapan banyak orang, atau aktivitas manusia di tengah hutan yang sebenarnya sunyi. Meski belum dapat dibuktikan secara ilmiah, kisah-kisah tersebut telah menjadi bagian dari legenda Gunung Rinjani yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Terlepas dari benar atau tidaknya cerita tersebut, pendaki tetap dianjurkan menjaga sikap, menghormati budaya lokal, serta mematuhi etika selama berada di kawasan Gunung Rinjani.
4. Air Kokok Putek yang Keramat
Air Kokok Putek atau Sungai Air Putih menjadi salah satu lokasi yang kerap dikaitkan dengan mitos Gunung Rinjani. Aliran airnya yang tampak berwarna putih susu dipercaya oleh sebagian masyarakat lokal memiliki khasiat untuk membantu penyembuhan berbagai penyakit.
Karena kepercayaan tersebut, tidak sedikit peziarah maupun warga setempat yang datang untuk mandi atau mengambil air sebagai bagian dari tradisi spiritual. Selain itu, legenda yang berkembang juga menyebutkan bahwa kawasan ini dijaga oleh makhluk gaib berwujud naga emas sebagai simbol penjaga kesucian tempat tersebut.
Baca Juga: 7 Mitos Gunung Merbabu, Pendaki Wajib Tahu!
5. Misteri Gua Susu dan Gua Manik
Di kawasan sekitar Danau Segara Anak terdapat dua gua yang cukup dikenal dalam berbagai kisah mistis Gunung Rinjani, yaitu Gua Susu dan Gua Manik. Kedua gua ini kerap menjadi tujuan para peziarah maupun masyarakat yang ingin bermeditasi atau bertapa.
Gua Susu dipercaya memiliki stalaktit yang meneteskan air berwarna putih menyerupai susu. Dalam cerita yang berkembang, gua ini juga dianggap sebagai tempat untuk menguji kebersihan hati seseorang.
Konon, jalur menuju bagian dalam gua akan terasa semakin sempit bagi mereka yang datang dengan niat buruk. Sementara itu, Gua Manik diyakini sebagai tempat untuk mencari petunjuk spiritual, ketenangan batin, atau berkah.
6. Larangan Mengucap Nama Tertentu
Dalam kepercayaan masyarakat setempat, beberapa nama hewan tidak boleh disebut secara langsung dan sebaiknya diganti dengan kata lain sebagai bentuk penghormatan kepada penghuni alam.
Selain itu, pendaki juga dianjurkan untuk tidak mengeluh berlebihan, mengumpat, berkata kasar, atau bersikap takabur. Karena dipercaya dapat mengundang kesialan, cuaca buruk, bahkan membuat seseorang tersesat di jalur pendakian.
Dengan menjaga ucapan, menghormati budaya lokal, dan tetap bersikap rendah hati, pendakian akan terasa lebih aman sekaligus menjadi bentuk penghargaan terhadap kearifan lokal yang telah diwariskan turun-temurun.
Baca Juga: Mitos Gunung Lawu & Larangan yang Tak Boleh Diabaikan
7. Misteri Pendaki Hilang
Cerita ini berkembang dari perpaduan antara pengalaman nyata pendaki yang tersesat dan legenda turun-temurun masyarakat setempat.
Dalam kepercayaan lokal, pendaki yang mengabaikan pantangan, berkata kasar, merusak alam, atau bersikap tidak sopan di kawasan yang dianggap sakral dipercaya dapat “disembunyikan” dan dibawa masuk ke dalam kerajaan gaib yang dipimpin Dewi Anjani.
Di sisi lain, banyak kasus pendaki hilang juga dapat dijelaskan oleh faktor alam seperti cuaca buruk, kabut tebal, jalur yang membingungkan, hingga kurangnya persiapan navigasi. Sehingga etika dan kesiapan teknis sama-sama penting sebelum melakukan pendakian.
Larangan Pendakian Gunung Rinjani yang Wajib Dipatuhi
Mitos dan kepercayaan masyarakat memang menjadi bagian dari cerita yang melekat di Gunung Rinjani. Namun, pendaki juga perlu memahami bahwa ada aturan pendakian Gunung Rinjani yang bersifat resmi dan wajib dipatuhi.
Berbagai larangan ini dibuat oleh Taman Nasional Gunung Rinjani untuk menjaga kelestarian ekosistem sekaligus menjamin keselamatan seluruh pendaki. Melanggar aturan bukan hanya berisiko merusak alam, tetapi juga dapat dikenai sanksi sesuai ketentuan yang berlaku.
- Jangan membuang sampah sembarangan.
- Jangan merusak flora maupun fauna.
- Jangan membuat api di area yang dilarang.
- Jangan membawa pulang batu, tanaman, maupun benda apa pun dari kawasan taman nasional.
- Jangan memaksakan diri mendaki saat jalur ditutup.
- Jangan mengabaikan prosedur registrasi pendakian.
Percaya atau Tidak, Tetap Hormati Gunung Rinjani

Mitos Gunung Rinjani telah menjadi bagian dari budaya dan kearifan lokal masyarakat yang diwariskan dari generasi ke generasi. Sebagian orang mungkin mempercayainya, sementara yang lain menganggapnya sebagai cerita rakyat yang memperkaya sejarah dan tradisi setempat.
Apa pun sudut pandangmu, setiap pendaki tetap perlu menjaga sikap, mematuhi aturan yang berlaku, serta menghormati alam dan budaya masyarakat sekitar. Pengalaman mendaki Gunung Rinjani bukan hanya tentang mencapai puncak, tetapi juga tentang belajar menghargai lingkungan, sesama pendaki, dan nilai-nilai lokal yang telah lama hidup di kawasan tersebut.
Sekedar saran dari saya, daripada kamu terlalu memusingkan bahaya yang tidak nyata. Lebih baik persiapan diri kamu dari bahaya yang nyata, mulai dari suhu dingin di gunung, pandangan yang tertutup kabut dan lainnya.
Intinya, jangan pernah mendaki gunung tanpa persiapan apapun. Persiapkan kondisi fisik H – 2 minggu pendakian, persiapkan mental sedari awal keputusan dibuat. Dengan begitu, pendakian akan jauh lebih aman dan menyenangkan.
Selamat mendaki Konco Mlaku!
Pertanyaan Seputar Mitos Gunung Rinjani
Ya. Bagi sebagian masyarakat Sasak, Gunung Rinjani merupakan kawasan yang memiliki nilai spiritual dan budaya yang tinggi. Oleh karena itu, gunung ini dihormati dan menjadi lokasi berbagai tradisi serta upacara adat yang masih dilestarikan hingga sekarang.
Dewi Anjani merupakan sosok yang dipercaya dalam cerita rakyat sebagai penjaga spiritual Gunung Rinjani. Kisah tentang Dewi Anjani telah menjadi bagian dari tradisi lisan dan budaya masyarakat Lombok yang diwariskan secara turun-temurun.
Beberapa larangan yang sering dipercaya antara lain berkata kasar, merusak alam, mengambil benda dari kawasan gunung, serta melakukan tindakan yang dianggap tidak sopan. Selain itu, setiap pendaki wajib mematuhi aturan resmi dari Taman Nasional Gunung Rinjani demi menjaga kelestarian alam dan keselamatan bersama.
Pengunjung dapat beraktivitas di area tertentu di sekitar Danau Segara Anak, tetapi tetap harus mengikuti aturan yang berlaku. Pendaki juga diharapkan menghormati kawasan yang dianggap sakral oleh masyarakat setempat dan tidak melakukan aktivitas yang dilarang oleh pengelola taman nasional.
Kepercayaan terhadap mitos merupakan pilihan masing-masing individu. Terlepas dari benar atau tidaknya cerita yang berkembang, pendaki sebaiknya tetap menghormati budaya lokal, menjaga etika selama berada di gunung, serta selalu mengutamakan keselamatan dan kelestarian alam.







