The Journey Start Here!

Mitos Gunung Gede yang Masih Dipercaya Pendaki

Ini dia deretan mitos gunung Gede yang masih lestari sampai sekarang. 

Gunung Gede menjadi salah satu gunung paling populer di Jawa Barat yang hampir selalu ramai didaki, baik oleh pendaki pemula maupun yang sudah berpengalaman. Maka jangan heran, kalau kamu mendaki jalurnya bisa macet.

Selain terkenal berkat hamparan bunga edelweiss di Alun-Alun Suryakencana, gunung ini juga menyimpan beragam cerita mistis yang terus hidup di tengah masyarakat. Sebagian kisah berasal dari legenda yang diwariskan turun-temurun oleh warga sekitar. 

Sementara sebagian lainnya muncul dari pengalaman para pendaki yang mengaku mengalami kejadian di luar nalar saat berada di kawasan Gunung Gede. Saya sendiri sudah dua kali mendaki gunung ini dan sering mendengar berbagai cerita tersebut.

Meski sulit dibuktikan kebenarannya, berbagai mitos Gunung Gede masih sering menjadi bahan obrolan di basecamp, jalur pendakian, hingga media sosial para pendaki.

Kenapa Gunung Gede Punya Banyak Mitos?

Gunung Gede merupakan bagian penting dalam budaya dan cerita rakyat Sunda, sehingga berbagai legenda tentang gunung ini terus diwariskan dari generasi ke generasi. Mulai dari kisah penghuni gaib, kerajaan tak kasat mata, hingga pengalaman mistis yang dialami pendaki saat berada di kawasan tertentu.

Tidak heran jika tempat ini sering masuk dalam jajaran gunung angker di Indonesia, mengingat banyaknya cerita misteri yang menyelimutinya. Selain itu, masyarakat sekitar juga menganggap beberapa lokasi di Gunung Gede sebagai tempat yang sakral, sehingga melahirkan berbagai kepercayaan dan pantangan yang masih dijaga hingga sekarang.

Banyaknya mitos gunung yang beredar sebenarnya tidak hanya bertujuan menakut-nakuti. Tetapi menjadi salah satu cara masyarakat terdahulu untuk mengingatkan pendaki agar menjaga sikap, menghormati alam, tidak berkata sembarangan, serta selalu menjaga kelestarian lingkungan.

Karena itulah, cerita mistis Gunung Gede tetap hidup dan menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari sejarah serta pesona gunung yang berada di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango ini.

Daftar Mitos Gunung Gede yang Masih Lestari

1. Penghuni Surya Kencana

Hamparan padang edelweiss yang luas ini dipercaya memiliki penghuni tak kasat mata yang hidup berdampingan dengan alam sekitar. 

Tak sedikit pendaki yang mengaku melihat sosok misterius, rombongan berpakaian serba putih, hingga cahaya aneh yang muncul di tengah malam tanpa sumber yang jelas. 

Beberapa lainnya juga bercerita pernah mendengar suara langkah kaki, percakapan samar, atau keramaian yang seolah berasal dari kejauhan meski area sekitar sedang sepi.

Baca Juga: Pendakian Gunung Gede via Putri: Jangan Maksa!

2. Sedang Haid = Jangan Mendaki

Dalam berbagai cerita yang beredar, pendaki perempuan yang sedang menstruasi dianggap lebih rentan mengalami gangguan. Mulai dari tersesat, mengalami kejadian aneh, hingga mengalami kondisi yang tidak diinginkan selama perjalanan.

Kepercayaan ini menjadi bagian dari mitos pendakian yang telah diwariskan secara turun-temurun dan masih diyakini oleh sebagian komunitas pendaki hingga sekarang.

Meski demikian, larangan mendaki saat haid tidak memiliki dasar ilmiah yang dapat membuktikan adanya hubungan antara menstruasi dan kejadian mistis di gunung.

Karena itu, banyak pendaki modern yang menganggapnya sebagai bagian dari kearifan lokal dan budaya pendakian yang patut dihormati, tanpa harus mempercayainya secara mutlak.

3. Pasar Setan

Konon, sebagian pendaki pernah mendengar suara ramai layaknya aktivitas pasar di tengah hutan. Mulai dari suara orang berbincang, langkah kaki, hingga hiruk-pikuk yang terdengar samar dari kejauhan. 

Menurut cerita yang berkembang, suara tersebut berasal dari pasar gaib yang hanya bisa didengar oleh orang-orang tertentu. Meski tidak ada bukti yang dapat menjelaskan fenomena ini secara pasti. 

Kisah Pasar Setan Gunung Gede terus hidup dari generasi ke generasi dan menjadi bagian dari cerita mistis yang menambah kesan misterius saat menjelajahi kawasan hutan pegunungan di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.

Baca Juga: Mitos Gunung Lawu & Larangan yang Tak Boleh Diabaikan

4. Kisah Eyang Suryakencana

Ketika membahas legenda Gunung Gede Pangrango, nama Eyang Suryakencana hampir selalu muncul dalam berbagai cerita yang berkembang di kalangan pendaki dan masyarakat sekitar.

Sosok ini sering dikaitkan sebagai leluhur, tokoh spiritual, atau penjaga gaib yang dipercaya memiliki hubungan erat dengan kawasan Alun-Alun Suryakencana. Beragam kisah mengenai Eyang Suryakencana terus diwariskan dari generasi ke generasi.

Mulai dari cerita tentang kemunculan sosok misterius hingga pengalaman spiritual yang dialami sejumlah pendaki. Terlepas dari benar atau tidaknya cerita tersebut, kisah Eyang Suryakencana telah menjadi bagian penting dari identitas dan budaya pendakian di Gunung Gede Pangrango.

5. Jangan Mengambil atau Membawa Pulang Benda dari Gunung

Menurut cerita yang berkembang di kalangan pendaki, pelanggaran terhadap pantangan ini dipercaya dapat mendatangkan kesialan. 

Mulai dari perjalanan yang terasa berat hingga gangguan yang sulit dijelaskan secara logika. Terlepas dari benar atau tidaknya mitos tersebut, pesan yang terkandung di dalamnya memiliki nilai positif. 

Karena mengajarkan setiap orang untuk menghormati alam dan tidak mengambil apa pun selain kenangan.

Secara tidak langsung, kepercayaan ini juga membantu menjaga ekosistem Taman Nasional Gunung Gede Pangrango agar tetap lestari. Sehingga keindahan alamnya dapat dinikmati oleh generasi pendaki berikutnya.

Baca Juga: 7 Mitos Gunung Merbabu, Pendaki Wajib Tahu!

Etika yang Sebaiknya Tetap Diterapkan Saat Mendaki Gunung Gede

Etika PendakianPenjelasan
Tidak Merusak AlamHindari memetik bunga, mencoret batu, merusak vegetasi, atau melakukan tindakan lain yang dapat mengganggu ekosistem Gunung Gede. Alam yang terjaga akan tetap bisa dinikmati oleh generasi pendaki berikutnya.
Menjaga Ucapan dan PerilakuBersikap sopan selama pendakian, baik kepada sesama pendaki maupun masyarakat sekitar. Menjaga ucapan dan perilaku merupakan bagian penting dari etika pendakian yang sering diabaikan.
Tidak Meninggalkan SampahBawa turun kembali seluruh sampah yang dihasilkan selama pendakian, termasuk tisu, bungkus makanan, dan sampah organik. Prinsip leave no trace wajib diterapkan oleh setiap pendaki.
Menghormati Sesama PendakiBerikan jalan saat diperlukan, hindari membuat keributan berlebihan, dan saling membantu ketika ada pendaki yang membutuhkan bantuan di jalur.
Mematuhi Aturan Taman NasionalIkuti seluruh peraturan yang berlaku di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, termasuk batas area pendakian, aturan camping, serta larangan yang ditetapkan oleh pengelola.

Pernah Mendengar Mitos Gunung Gede Ini? Begini Cara Menyikapinya

tenda rusak di surya kencana
Kondisi tenda rusak karena kurang persiapan.

Gunung Gede memang memiliki banyak cerita mistis yang terus hidup hingga sekarang. Sebagian berasal dari legenda yang diwariskan masyarakat sekitar.

Menurut saya, tidak semua mitos harus dipercaya mentah-mentah, tetapi bukan berarti kita boleh bersikap sembarangan. Saat mendaki, jauh lebih penting untuk menjaga etika, menghormati budaya lokal, serta mematuhi aturan yang berlaku di gunung. 

Saya sendiri pernah hampir tidak selamat pada pendakian kedua karena persiapan yang kurang matang. Saat itu saya lebih banyak belajar bahwa ancaman terbesar di gunung sering kali bukan hal-hal mistis, melainkan kesalahan pendaki itu sendiri. 

Jadi, daripada terlalu fokus merasa takut pada cerita-cerita mistis, lebih baik gunakan energi tersebut untuk mempersiapkan pendakian dengan matang agar perjalananmu tetap aman, nyaman, dan menyenangkan.

Pertanyaan Seputar Mitos Gunung Gede

Gunung Gede termasuk gunung yang memiliki banyak cerita mistis yang berkembang di kalangan pendaki dan masyarakat sekitar. Kawasan Alun-Alun Suryakencana menjadi salah satu lokasi yang paling sering dikaitkan dengan berbagai kisah dan legenda.

Beberapa mitos yang paling sering diceritakan adalah larangan buang air sembarangan, kisah pasar setan, serta legenda Eyang Suryakencana yang dipercaya sebagai sosok yang menjaga kawasan Alun-Alun Suryakencana.

Hal tersebut merupakan salah satu mitos yang berkembang di kalangan pendaki dan masyarakat setempat. Tidak ada aturan resmi dari pengelola taman nasional yang melarang wanita haid untuk mendaki Gunung Gede.

Selain berkaitan dengan kepercayaan lokal, larangan berkata sembarangan juga mengajarkan pendaki untuk menjaga sikap, menghormati alam, serta menghargai budaya masyarakat yang hidup di sekitar kawasan gunung.

Ditulis oleh

Alif A. Zakaria

Pegiat alam terbuka yang hobi nulis dan ngulik kopi. Kecanduan hiking sejak tahun 2018 dan pernah aktif di Sispala. Sekarang lagi mendalami trail & road running serta menerapkan metode ultralight hiking.