Hipotermia adalah penyakit yang cukup menjadi momok bagi pendaki gunung.
Suhu normal manusia berada di kisaran 36,5 – 37,5°C, sedangkan seseorang dikatakan mengalami hipotermia ketika suhu tubuhnya turun di bawah 35°C.
Kondisi ini sering terjadi di lingkungan dingin seperti gunung, terutama saat tubuh basah, kelelahan, atau kurang perlindungan dari angin dan hujan.
Namun yang paling krusial adalah suhu inti tubuh yang merupakan suhu organ vital seperti jantung, paru-paru, dan otak. Ketika suhu inti tubuh turun, fungsi organ mulai terganggu.
Tubuh menggigil, koordinasi menurun, hingga kesadaran bisa hilang. Itulah kenapa hipotermia bukan sekadar kedinginan biasa. Tapi kondisi serius yang harus dipahami sejak awal. Karena jika telat, bisa berujung pada kematian.
Kenapa Hipotermia Berbahaya Saat Hiking?
Mendaki gunung merupakan aktivitas healing yang memiliki resiko cukup besar. Oleh karena itu, para pendaki khususnya yang pemula jangan anggap remeh persiapan sebelum mendaki.
Salah satu penyakit gunung yang selalu mengintai adalah Hipotermia. Seperti yang sudah dijelaskan, hipotermia merupakan sebuah kondisi dimana suhu tubuh berada di bawah normal.
Jika sudah terjangkit, tubuh pendaki bisa kehilangan kemampuan untuk menghasilkan panas. Dalam kondisi tertentu, korban bahkan bisa kehilangan kesadaran hingga berujung kematian.
Data menunjukkan bahwa dalam beberapa tahun, terdapat puluhan kasus pendaki meninggal akibat hipotermia. Yang bikin berbahaya, kondisi ini sering datang secara perlahan.
Awalnya hanya menggigil, lalu tubuh melemah, hingga akhirnya tidak mampu lagi melawan dingin. Di gunung, kombinasi suhu rendah, angin kencang (wind chill), dan pakaian basah bisa mempercepat penurunan suhu tubuh tanpa disadari.
Apa Saja Penyebab Hipotermia?
| Penyebab | Penjelasan | Dampak ke Tubuh |
|---|---|---|
| Cold Exposure (Paparan Dingin) | Terpapar suhu dingin dalam waktu lama tanpa perlindungan yang cukup | Kehilangan panas tubuh secara terus-menerus hingga terjadi penurunan suhu tubuh drastis |
| Pakaian Basah (Wet Hypothermia) | Pakaian yang basah karena hujan atau keringat mempercepat hilangnya panas | Tubuh kehilangan panas 25x lebih cepat dibanding kondisi kering |
| Kelelahan & Kurang Makan | Tubuh kekurangan energi untuk menghasilkan panas alami | Produksi panas menurun, membuat tubuh lebih rentan terhadap hipotermia |
| Angin (Wind Chill Effect) | Angin kencang mempercepat proses pendinginan tubuh meskipun suhu tidak terlalu rendah | Percepatan kehilangan panas tubuh dan risiko penurunan suhu tubuh drastis |
Gejala Hipotermia (Dari Ringan Sampai Parah)

1. Hipotermia Ringan
Hipotermia Ringan biasanya jadi fase awal yang sering dianggap sepele oleh pendaki. Gejalanya terlihat dari tubuh yang mulai menggigil, lemas, dingin yang menusuk, dan koordinasi tubuh yang mulai menurun.
Di tahap ini, kamu mungkin masih bisa beraktivitas, tapi performanya sudah menurun drastis. Langkah kaki jadi lebih lambat, fokus berkurang, dan keputusan yang diambil sering kurang tepat.
Kalau tidak segera ditangani, kondisi ini bisa berkembang ke tahap yang lebih serius. Menggigil bisa makin hebat atau justru berhenti.
Jika sudah di tahap berhenti, artinya sudah gawat. Karena itu, penting banget untuk mengenali gejala sejak awal dan segera melakukan penanganan yang tepat.
Baca Juga: Penyakit Hipotermia: Ciri-ciri, Pencegahan dan Cara Mengobati
2. Hipotermia Sedang
Saat masuk ke fase hipotermia sedang, kondisi tubuh sudah mulai kehilangan kemampuan menjaga suhu inti secara optimal. Gejala yang paling terasa biasanya kebingungan, sulit fokus, bahkan mulai mengambil keputusan yang tidak rasional.
Selain itu, koordinasi tubuh menurun, langkah jadi goyah, sering tersandung, dan gerakan terasa lambat atau tidak sinkron. Di titik ini, pendaki sering tidak sadar kalau dirinya dalam bahaya, karena penurunan fungsi kognitif membuat respon terhadap situasi jadi melemah.
Kondisi ini jelas tidak bisa dianggap sepele, karena jika dibiarkan, hipotermia bisa berkembang ke tahap yang lebih parah. Itulah kenapa penting banget mengenali gejala sejak awal dan segera melakukan penanganan.
Mulai dari mencari tempat hangat, mengganti pakaian basah, hingga mengonsumsi makanan atau minuman hangat. Ingat, di gunung, kesadaran kecil seperti ini bisa jadi pembeda antara kondisi aman.
3. Hipotermia Berat
Hipotermia berat adalah kondisi berbahaya ketika suhu tubuh turun drastis dan tubuh mulai kehilangan kemampuan untuk menjaga fungsi vitalnya.
Pada tahap ini, korban biasanya mengalami hilang kesadaran, tubuh terasa sangat lemah, respons melambat, hingga sulit diajak komunikasi.
Kulit bisa tampak pucat atau kebiruan, napas melemah, dan tubuh tidak lagi mampu menghasilkan panas secara normal. Kondisi ini sering terjadi saat seseorang terlalu lama terpapar dingin, basah, angin kencang, atau kelelahan tanpa perlindungan yang memadai.
Yang paling berbahaya, detak jantung menjadi tidak stabil dan bisa memicu gangguan serius pada organ tubuh.
Jika tidak segera ditangani, hipotermia berat dapat berujung pada gagal napas hingga kematian.
Baca Juga: Cara Membuat Rencana Pendakian Gunung yang Tepat & Mudah
Pertolongan Pertama pada Pendaki yang Terserang Hipotermia
Saat seseorang mengalami hipotermia, jangan panik. Fokuslah untuk memberikan pertolongan pertama sesegera mungkin. Langkah pertama adalah memindahkan korban ke tempat yang lebih hangat dan terlindung dari angin atau hujan.
Setelah itu, segera ganti pakaian basah dengan yang kering. Pakaian yang lembap mempercepat hilangnya panas tubuh. Bungkus korban menggunakan sleeping bag, jaket, atau emergency blanket untuk membantu mempertahankan suhu tubuh.

Emergency Blanket
Deskripsi singkat produk di sini...
Cek Detail Emergency BlanketKalau korban masih sadar dan mampu menelan, beri minuman hangat secara perlahan untuk membantu proses pemanasan dari dalam tubuh. Selain itu, salah satu cara menghangatkan tubuh yang cukup efektif adalah melakukan body heat transfer.
Cara ini memanfaatkan panas tubuh orang lain untuk membantu menaikkan suhu korban secara perlahan. Hindari memaksa korban bergerak berlebihan atau langsung memanaskan tubuh dengan api besar karena bisa memperburuk kondisi.
Karena siapa saja bisa terserang Hipotermia, usahakan setiap pendaki memiliki wawasan untuk menangani penyakit ini. Jika ragu atau tidak ada anggota yang mahir, lebih baik ikut open trip pendakian gunung agar lebih terjamin.
Baca Juga: 5 Tips Memilih Open Trip Gunung yang Aman & Terpercaya
Kesalahan Fatal Saat Menangani Hipotermia
Saat menghadapi korban hipotermia, kepanikan adalah musuh terbesar. Kalau kita panik, mungkin saja melakukan penanganan yang justru memperburuk kondisi. Oleh karena itu, ketenangan adalah kunci keberhasilan penanganan korban Hipotermia.
Ketika panik, kita cenderung memikirkan berbagai cara agar suhu tubuh korban bisa segera turun, namun ini juga bukan solusi yang tepat. Karena memanaskan tubuh korban secara drastis bisa memicu shock pada tubuh korban.
Kesalahan lain yang sering terjadi adalah membiarkan korban tetap diam tanpa penanganan yang tepat. Memang korban hipotermia perlu diistirahatkan, tapi tetap harus dibantu mendapatkan kehangatan secara perlahan.
Langkah yang bisa kamu lakukan antara lain: mengganti pakaian basah, diberi lapisan hangat, dan dipantau kondisinya. Jika korban masih sadar, bantu konsumsi minuman hangat non-kafein sedikit demi sedikit.
Gimana, Udah Lebih Paham Soal Hipotermia?
Bahaya Hipotermia tidak mengintai saat mendaki saja, bahkan di basecamp pun kamu bisa terserang hipotermia. Apalagi jika proses aklimatisasi tubuh gagal, resikonya bisa meningkat.
Saya pernah menyaksikan ini, ketika turun dari Gunung Slamet. Di basecamp ada seorang pendaki yang sedang mendapatkan penanganan intensif karena terserang hipotermia.
Sekian dulu pembahasan singkat tentang Hipotermia, semoga penjalasan sederhana ini bisa menambah wawasan kamu. Dengan begitu kamu tidak nekat untuk mendaki gunung tanpa persiapan apapun.
Setiap gunung memiliki karakteristiknya masing-masing. Setiap gunung pula menyimpan bahaya, jadi jangan anggap remeh gunung manapun.
Jangan ukur kesulitan gunung dari ketinggiannya saja, lakukan riset yang lebih dalam tentang jalur, ketersediaan sumber air, atau mungkin ancaman dari hewan buas.
Udah dulu ceritanya yaa … Masih banyak cerita lainnya dari Insanus Mlaku yang gak kalah seru dan menarik. Yuk eksplore bareng.
Pertanyaan Seputar Hipotermia
Hipotermia terjadi ketika suhu tubuh turun drastis akibat kehilangan panas lebih cepat dibanding tubuh menghasilkan panas. Penyebabnya bisa karena udara dingin, pakaian basah, kehujanan, angin kencang (wind chill), kelelahan, kurang makan, atau terlalu lama berada di lingkungan bersuhu rendah saat mendaki.
Korban hipotermia biasanya mulai merasakan menggigil hebat, tubuh lemas, sulit fokus, bicara pelo, hingga koordinasi tubuh menurun. Dalam kondisi lebih parah, korban bisa mengalami kebingungan, mengantuk berlebihan, bahkan kehilangan kesadaran.
Hipotermia dapat menyebabkan gangguan fungsi tubuh seperti penurunan kesadaran, gangguan pernapasan, denyut jantung melambat, hingga gagal organ. Jika tidak segera ditangani, kondisi ini bisa berujung fatal dan menyebabkan kematian.
Segera pindahkan korban ke tempat yang lebih hangat dan lindungi dari angin atau hujan. Ganti pakaian basah dengan yang kering, berikan lapisan hangat seperti sleeping bag atau emergency blanket, lalu beri minuman hangat jika korban masih sadar. Hindari memijat tubuh korban atau memanaskan secara ekstrem karena bisa memperburuk kondisi.







